Konsep Dasar Investasi yang Kuat

- Minggu, Oktober 09, 2016

Investasi, apa itu?


Banyak sekali definisi dari konsep dasar-dasar investasi. Ada yang meninjau investasi dari pemakaian ‘modal dasar’ saat ini yang diinvestasikan untuk kepentingan dan pertumbuhan usaha di masa depan. Investasi ini menghendaki pertumbuhan, meskipun tak bisa menghilangkan aspek risiko begitu saja.

Ada lagi pihak yang memaknai investasi sebagai aktivitas ‘menitipkan’ atau ‘menempatkan’ sejumlah dana untuk mengharapkan keuntungan di rentang waktu tertentu. Hal ini kerap kali terlihat di dunia pasar modal.

Satu lagi pihak yang menyebutkan investasi sebagai upaya menanamkan modal atau uang ke dalam aktivitas produksi. Misalnya dipakai untuk membeli gedung, mesin, dan sebagainya. Satu hal yang pasti, semua masih berkaitan dengan aktivitas produksi. Tapi penting saya tambahkan bahwa sebenarnya investasi tidak hanya melulu tentang produksi.

Bahkan kini masyarakat di Indonesia semakin peduli untuk berinvestasi pada pendidikan putra-putrinya.

Apapun itu, investasi tetaplah upaya investor untuk memanfaatkan sumber daya modal atau barangnya untuk masa depan yang lebih baik lagi; selain mempertimbangkan aspek risiko yang mungkin terjadi selama berinvestasi.

Kalau anda masih sulit memaknai investasi, barangkali saja akan semakin bijak bila anda menghubungi kolega anda yang bergelut di bidang akademik. Angkat gagang telepon anda, segera. Saya percaya bahwa anda punya kolega yang memiliki wawasan yang luas di bidang teori akademik.

Jadi, misalnya anda punya segepok uang, dengan proyeksi jangka menengah-panjang, keputusan apa yang anda buat? Barangkali itulah yang disebut : INVESTASI.
Meski sejujurnya saya tak mau pusing dengan istilah-istilah ini. Saya akan prefer tentang hal-hal yang berkaitan dengan penerapan investasi di dunia pasar modal, terutama #Saham. Itu saja.

Kenapa saham? Jelas karena saham adalah satu dari sekian instrumen investasi yang ada di dunia ini. Lalu apa hanya saham? Jelas saja bukan. Saya bilang saham hanya karena saya terlanjur kesengsem dengan keelokannya yang begitu dinamis. Betapa tidak, dengan saham, ada peluang mampu memberikan komisi IDR 30M lebih! Wow, setiap hari ini...! (simak pembahasannya di kesempatan berikutnya).


Jenis-jenis Instrumen Investasi


Sebelum saya mengorek tentang saham di tulisan-tulisan saya berikutnya, mungkin saja bisa saya ulas sekilas tentang instrumen investasi. Bisa emas, tanah, rumah, saham, atau edukasi.

konsep-dasar-investasi-emas

Misalnya saja emas. Dengan membeli emas, maka sudah bisa disebut berinvestasi. Kabar baiknya, ini sudah diwariskan turun-temurun di masyarakat Indonesia. Bila anda mengamati, dulu tahun 1991, harga emas hanya sekitar IDR 11 ribu. Tapi sekarang? Ya, benar sekali, diatas IDR 500 ribu. Tentu fantastis bagi sebagian orang yang mengempit emasnya sejak saat itu.

  • Tanah

konsep-dasar-investasi-tanah

Lalu ada lagi tanah. Ilmu ini pun masih warisan dari nenek moyang kita. Bahwa ada dogma yang mengatakan bahwa harga tanah pasti naik; tentu anda akan sulit menyangkalnya. Secuil kisah nyata, minggu lalu saya dikasih tahu teman kerja saya, sebut saja Wahyu, bahwa dia baru saja beli tanah seharga IDR 50 juta.

Selang seminggu ada yang menghampirinya dengan uang cash IDR 65 juta, agar Wahyu mau menjual tanah yang baru dibelinya. Saya kita anda akrab dengan cerita-cerita nyata yang seperti ini bila membahas tanah.

  • Rumah

konsep-dasar-investasi-rumah

Kemudian ada instrumen investasi lainnya, rumah. Mirip-mirip tanah, sih. Malah sekitar 5 tahun terakhir ini terbilang sangat bombastis dengan harga rumah. Sampai-sampai pemerintah membuat kebijakan untuk mengerem laju harga rumah dengan membuat aturan Loan to Value (LTV) 30%, yang baru-baru ini diperlonggar menjadi 20%.

Dari investigasi BI beberapa tahun lalu, ada satu orang yang memiliki angsuran 9 unit rumah! Tentu ini berbau spekulasi. Makanya pemerintah bergerak cepat, sebab kisah runtuhnya Lehmann & Brothers di Amerika sana akan terulang di bumi pertiwi.

Singkat kata, apapun itu fenomenanya, rumah tetaplah instrumen investasi yang menggiurkan bagi para investor karena kenaikan harganya yang tinggi.

  • Saham

konsep-dasar-investasi-saham

Saham, tak sedikit orang yang berkecimpung dibidang ini. Tentu saja saya termasuk disini. Malah inilah PASSION saya. Secara jangka panjang, hampir bisa dipastikan 99% harga saham perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan baik, meski berfluktuasi, harganya akan mampu terus mencetak rekor baru; begitu seterusnya.

Benarkah banyak orang yang menggeluti bidang investasi ini? Ah, barangkali saya perlu meralat pernyataan di baris pertama paragraf ini. Tapi sudahlah, memang kalau dihitung sendiri, orang akan capek bila harus menghitung hingga 2 juta orang; kisaran akun yang tercatat sebagai pelaku di pasar modal.

Tapi bila anda membandingkan dengan seluruh penduduk negeri ini yang konon katanya menjapai 250 juta orang, maka angka 2 juta orang tentu sangat sedikit. Padahal per Oktober 2016 ini, tercatat kapitalisasi IDX menyentuh IDR 5.800 T. Tentu saja asing masih memiliki ruang yang lebar disini.

Kembali ke saham sebagai instrumen investasi, ada saham yang harganya bisa naik berkali-kali lipat dalam rentang waktu tertentu. Sebabnya banyak. Tapi saya pastikan, saya termasuk orang yang suka dengan kenaikan harga saham yang kinerja keuangannya ciamik.

Bukan saham perusahaan-perusahaan yang sudah bergerak duluan hanya dipicu isu-isu yang seringnya tidak jelas. Makanya, bila tertarik investasi di saham, sebaiknya mengawalinya dengan kemauan yang kuat untuk mau belajar. Terutama tentang operasional perusahaan, termasuk analisa laporan keuangan.

  • Pendidikan

konsep-dasar-investasi-pendidikan

Oleh sebab itulah, saya memasukkan edukasi sebagai instrumen investasi yang paling penting dipahami. Tanpa belajar, saya akan sulit sharing pengetahuan investasi ini pada anda semua. Tanpa keinginan belajar yang kuat, maka bisa dipastikan orang akan sulit memahami fenomena-fenomena yang berkembang dalam dunia investasi; bahkan hal-hal yang lain.

Apakah hanya 5 hal diatas saja yang bisa menjadi instrumen investasi? Saya katakan, belum tentu. Barangkali saja ada banyak cara berinvestasi. Tidak harus memilih dari 5 hal yang sudah saya sebutkan diatas. Tapi pesan saya satu. Jangan meminta Kanjeng Dimas untuk menggandakan uang anda!

Selanjutnya, saya ingin memberikan gambaran pada anda semua, betapa investasi itu penting bagi masa depan anda.

Bila sebelumnya saya menulis tentang instrumen-instrumen investasi, kali ini saya akan bilang bahwa
semua investasi anda itu akan bermuara pada masa tua anda (Semoga kita semuanya panjang umur dan penuh manfaat atas umur kita. Amin...).

Kenapa saya bilang umur? Jelas sekali karena umur manusia ada batasnya. Sampai kapan? Kita tidak tahu. Setahu saya, manusia diperintah untuk beribadah di muka bumi ini. Bentuk ibadah, banyak ragamnya. Semua ibadah itu sangat berkaitan dengan umur. Limited, lah pokok e... 

Jadi, dengan umur orang yang terbatas itu, bisa saja dicacah per 10 tahun, ataupun selain per 10 tahun. Terserah asumsi anda. Tapi disini saya minta izin anda untuk bilang tentang per 10 tahun. Mirip-mirip Jack Ma di Youtube itu, lah. Meski ini versi Indonesianya, biar agak beda saya langsung ke 20 tahun.

Demi masa!

usia-manusia-dan-investasi

0-20 Tahun 

Saat 0-20 tahun, normalnya orang-orang di Indonesia dibiayai oleh orangtuanya. Sekolah, jajan, jalan-jalan, belanja, beli gadget...., semuanya disubsidi orangtua. Penghasilan, NOL. Ya tidak semua begitu. Tapi kebanyakan kan begitu. Its OK. Normal.

Lanjut, ya.

20-30 Tahun

Usia 20-30 tahun, orang mulai punya penghasilan. Mayoritas penghasilan di usia ini tak banyak. Alias hanya ada pada rentang 'UMK'. UMK sungguhan bagi yang jadi karyawan pabrik, 'UMK' yang batasnya tidak pasti-pasti amat bagi yang menggeluti usahanya sendiri. Poinnya, bisa ditabung, sebab sama-sama berpenghasilan. Tapi kecil. Meski saya juga tahu nama-nama seperti Timothy Sykes, dst...

30-40 Tahun

Lanjut ke usia 30-40, biasanya penghasilan sudah semakin besar. Disisi lain - sebab sudah berkeluarga - pengeluaran juga umumnya naik. Tenang saja, kalau anda hemat, anda masih boleh menabung. Buat hari tua.

40-50 Tahun

Pada saat memasuki usia 40-50 tahun, sering orang mulai terbayang setelah pensiun mau apa. Ada yang mulai ketat menyusun masa pensiunnya. Sayangnya, menurut riset di OJK, di Indonesia masih kurang tentang pemahaman financial literacy. Padahal ini erat kaitannya dengan masa tua.

Dari liputan Intisari-Online, dilaporkan bahwa tingkat melek produk keuangan masyarakat Indonesia memang masih memperihatinkan. Menurut riset yang dilakukan Otoristas Jasa Keuangan (OJK), saat ini indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8 persen.

Artinya, dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 52 juta jiwa saja yang benar-benar paham tentang industri keuangan dan produk jasa keuangan.

Dari enam produk keuangan yang tersedia, baru bank yang cukup dikenal masyarakat (57,28 persen). Hasil riset OJK juga menunjukkan, tingkat pemahaman paling rendah terdapat di pasar modal, yakni hanya 0,11 persen. Sisanya hampir merata di sektor perasuransian (11,81 persen), lembaga pembiayaan (6,33 persen), pergadaian (5,04 persen), dana pensiun (1,53 persen).

50-60 Tahun

Lanjut ke fase 50-60, disini orang memang seharusnya berkemas dari tempat kerjanya, benar-benar berpikir matang untuk pulang ke rumah. Mungkin saja penghasilan cukup banyak. Tapi yang pasti, saat ini generasi muda yang lebih kuat secara fisik dan cara pikir yang fresh, mau menggantikan anda : bahkan dengan bayaran yang lebih sedikit. Intinya orang masih produktif, meski persaingan begitu sengit. Malah di Indonesia saat ini boleh pensiun usia 55 tahun.

Nah, tibalah masa itu. Masa pasca produktif. Masa menuai jerih payah. Bila lancar, maka ada yang bisa orang petik dari usahanya selama ini. Sebaliknya, bila salah kelola atau rintangan tak bisa dihadapi, maka masa tua akan sulit.

Masalahnya : Inflasi, kesehatan, dsb...


Hidup tak selamanya mulus. Bahkan, di dalam kitab suci agama saya terdapat keterangan yang saya yakini, kurang lebih begini isinya : Bersama kesulitan, ada kemudahan. Saya memahaminya, bahwa hidup ini pasti akan menemui kesulitan-keaulitan.

Kesulitan hidup yang dihadapi, ada potensi menghantap sisi finansial, kesehatan, atau kesulitan lainnya. Disini butuh kesiapan. Jika kesiapan itu cukup, maka hantaman akan mampu dihadapi, termasuk ketika menghantam sisi finansial anda.

Ada cara proteksi dini, yaitu asuransi. Ini akan mengalihkan risiko, bukan pada diri anda. Silakan konsultasikan lebih lanjut hal ini dengan para advisor finansial di perusahaan-perusahaan asuransi. Mereka berlisensi untuk membantu anda.

Ada lagi mengelola keuangan secara mandiri maupun menggunakan jasa pengelola keuangan. Bila mandiri, tak perlu membayar jasa MI anda. Bila tak mau pusing, titipkan saja ke MI untuk dikelola. Nah, hasilnya inilah yang bisa menahan guncangan di sisi finansial anda, termasuk dari sergapan inflasi. Ingat, inflasi cenderung naik tiap saat. Ini menggerus nilai keuangan anda.

Gampangannya begini, bila inflasi tiap tahun 5 persen, maka 40 tahun lagi kenaikan barang-barang akan 200 persen dari saat ini.

Dan saya yakin ada banyak lagi permasalahan lainnya, tergantung konteks dan tingkatan anda masing-masing.


LALU BAGAIMANA?


Nah, terkait permasalahan tersebut, bila disiasati dengan financial literacy yang mantab, maka jerih payah anda sejak usia produktif tidak akan sia-sia. Hasil pengelolaan finansial anda dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat saat permasalah menyerang sisi finansial anda.

Berbeda bila anda tak punya persiapan sejak usia produktif, maka anda akan kelimpungan menghadapinya. Parahnya lagi, anda tak punya waktu lagi untuk kembali ke masa usia produktif.

Saran saya, silakan berinvestasi. Pilih instrumen yang anda suka. Itu saja. Kalau penutupnya kurang begitu mantab, saya pertegas lagi : BERINVESTASILAH....!

Jangan sampai saat permintaan anda untuk minta panjang umur itu dikabulkan Allah SWT, tapi malah anda sendiri yang tidak siap mengarunginya dengan finansial yang memadai. Demikian sharing tentang Konsep Dasar Investasi yang Kuat. Semoga manfaat.

Salam 2.8 Effect
Advertisement
Next Post This Older
 

Start typing and press Enter to search