Newbie di Bursa, (kenapa) Sulit Berpikir Jernih

- Jumat, Oktober 14, 2016
newbie di bursa saham

Hampir semua orang yang baru buka akun di BEI (Bursa Efek Indonesia) menemui kendala. Apa saja itu?

3 Kelompok Newbie (Studi tentang kesulitan yang dihadapi pendatang baru)


Sebagian yang pertama, karena merasa belum terbiasa dengan mekanismenya. Sebagian lagi sulit mengoperasikan software baru yang baru saja di downlod, sebab banyak sekali angka, grafik, serta tombol-tombol menunya. 
Lalu ada lagi sekelompok orang yang bingung sebab tidak mengetahui kenapa dirinya bisa merasa bingung. 
Jadi kelompok yang terakhir ini bingung karena sebenarnya dirinya tidak tahu sama sekali apa itu bursa. Dia mungkin buka akun di bursa hanya karena bujukan orang lain. Atau barangkali baca-baca di internet, lalu ketemu dengan artikel yang menulis tentang orang-orang top di bursa macam Warren Buffet atau Lo Kheng Hong.

Setelah itu dirinya merasa bisa karena didalam kepalanya ada bisikan misterius yang bilang 'tidak ada yang tidak mungkin'; yang baru saja diperoleh dari seminar motivasi. Jadilah dia buka akun di bursa. Ketemulah dia dengan grafik dan angka itu.

Dan akhirnya dia ingin bilang pada motivatornya (sayang sudah tidap pernah ketemu lagi) bahwa : ternyata ini tidak mungkin saya bisa pahami. Fatal...!

Jujur, saya pun sependapat dengan ungkapan 'tidak ada yang tidak mungkin'. Cuma, yakin saja tidak cukup. Dia musti mau belajar. Tepatnya belajar lebih keras. Artinya, seberapa rela dirinya mencurahkan waktunya untuk belajarlah yang menjadi kuncinya.

Saya yang sudah sejak 2011 di bursa pun mengakui bahw sampai saat ini masih belum tahu banyak. Belum ada apa-apanya. Jadi saya pun masih terus belajar dan berpikir tentang 'bagaimana caranya'.

Sebenarnya ketiga kelompok newbie yang bingung diatas, bisa saja sukses dengan kekuatan berpikirnya masing-masing. Tapi umumnya orang kita maunya disuapi. Dijejali menu-menu instant. Disuguhi makanan siap saji.

Itukah cara berusaha keras? Tidak, bro. Tidak demikian. Anda kudu berpikir tentang fokus pada bidang yang ingin anda lakukan. Payahnya, tak banyak orang mau berkipir.

Ada ungkapan filsuf dari Perancis yang saya dapatkan dari bukunya Pak Rhenald Kasali. Begini bunyinya :

Di dunia hanya 2% saja orang yang benar-benar mau berpikir. Sisanya merasa sudah berpikir. Dan sisanya lagi yang jumlahnya lebih besar, mereka lebih baik mati daripada disuruh berpikir.

Saya kira anda yang membaca tulisan ini maunya ada di golongan 2% tersebut, meskipun itu sebenarnya hanya sindiran bagi manusia-manusia yang tidak mau menggunakan otaknya untuk berpikir. Ya, begitulah filsuf.

Lalu bagaimana, dong?

Saran saya, hapus kelompok ketiga. Tapi bila itu anda, segeralah tobat dan kembali ke jalan yang benar. Artinya, mari sama-sama memulai dengan logika dasar berpikir yang benar.

Misalnya ada emiten BUMI yang hutangnya segunung (konon tembus Rp 100 T), dan satunya lagi emiten TLKM yang untungnya banyak, bila harus memilih, pasti anda akan memilih TLKM, kan?

"Semua orang juga tahu!" Mungkin anda bisa saja teriak begitu. Tapi pertanyaan saya, apakah anda tahu emiten mana yang untung banyak? Emiten mana yang hutangnya menggunung? Atau lebih sulit lagi, emiten manakah yang potensi keuntungannya akan terus terjaga hingga 5 tahun kedepan, misalnya?

Nah, disinilah anda bisa mengeksplorasi kemampuan berpikir anda dengan menganalisa fenomena ekonomi di sekitar anda.

Setingkat lebih jauh lagi setelah anda mau berpikir, adalah menjadikan media sebagai bagian dari informasi yang perlu diposisikan pada tempatnya. Informasi yang ditulis beberapa media untuk satu sumber yang sama, misalnya Annual Report ASII, bisa jadi pemberitaannya berbeda.

Anda musti objektif menyikapinya. Silakan cross check di sumbernya langsung. Memang biasanya memakan waktu. Tapi saya pastikan anda akan objektif dan mampu memperoleh dasar yang kuat untuk berpikir logis terhadap pemberitaan media.

Bila sudah sampai pada titik ini, anda akan bisa menilai sendiri, mungkin ada maksud lain dari pemberitaan media itu. Satu yang saya tahu, wartawan tidak menulis utuh komentar atau sumber, tapi dipenggal kata-katanya, sehingga pemberitaannya menarik.

Bila ditulis utuh, maka space yang dimilikinya mungkin tak akan mampu memuat, misalnya wawancara 30 menit.

Bila sudah memiliki landasan berpikir dalam menempatkan berita di media, maka ada baiknya anda melakukan studi komparasi beberapa catatan laporan keuangan emiten dari sektor yang sama. Paling gampang, download disini.

Bila masih bingung kode-kode 4 huruf itu, silakan beli koran Kontan yang harian. Disana ditulis emiten-emiten yang listing di BEI, lengkap dengan pengelompokan sektornya. Bila sudah dapat sektor unggulan, dan emiten yang potensial, silakan beli sahamnya. Just it!


'Ribet amat, sih?'

Mau jadi yang 2% tidak? Pasti mau kan? Kalau mau, silakan lanjut. Kalau sudah merasa lebih baik mati, lebih baik tutup laman ini. Hehee...

But, bila anda mau saya tunjukkan caranya, gampang. Datang saja ke saya. Sambil minum kopi, saya siap menunjukkan tempat-tempat d jagad maya yang sebaiknya anda kunjungi. Juga bagaimana caranya mempergunakannya.

Pesan saya, siapapun anda, bila punya keinginan yang kuat, sesulit apapun kendala yang dihadapi, maka disitu pula akan ada kemudahan yang bisa anda temukan.

Salam 2.8 Effect
Advertisement
 

Start typing and press Enter to search