Melek Manajemen Keuangan Keluarga Zaman Now

investasi saham


Latar Belakang Manajemen Keuangan Pribadi atau Keluarga

Seperti apa orang-orang disekitar anda memperlakukan uangnya? Kenapa ada orang yang penghasilannya biasa saja, atau malah cenderung sedikit, bisa kecukupan? Barangkali disinilah pentingnya melek manajemen keuangan, baik manajemen keuangan pribadi maupun keluarga.

Pengertian manajemen keuangan meliputi seluruh kegiatan perencanaan keuangan, budgeting, mencermati keluar masuk keuangan, mengatur neraca, mengontrol pemasukan dan pengeluaran, pendapatan dan saving untuk investasi; baik yang menjadi miliki organisasi, perusahaan, maupun individu (personal). Kali ini saya akan ulas tentang manajemen keuangan pribadi.

Lalu kenapa ada orang yang penghasilannya puluhan juta, atau mungkin malah ratusan juta; malah terlihat tak begitu punya waktu untuk merasakan kebahagiaan? Malahan anda pastinya sering mendengar atau melihat tayangan-tayanga di televisi tentang kasus-kasus korupsi. Tentunya anda sepakat bila ada orang yang mengatakan bahwa koruptor yang ditangkap KPK, misalnya, penghasilannya terbilang besar.

Telisik punya telisik, selain masalah hati, mungkin saja ada hal lain yang membedakannya. Saya menyebutnya cara memperlakukan uang. Bahasa bekennya saat ini sering disebut juga financial literacy. Secara teori, financial literacy atau cara mengelola keuangan ini membahas tentang kemampuan memproses informasi keuangan untuk landasan pengambilan keputusan.

Ilmu pengetahuan tentang cara mengelola keuangan ini, kini berkembang tak hanya di negara-negara maju.


Ilustrasi Penghasilan UMR


Saya punya ilustrasi. Begini, misalnya ada seseorang penghasilannya Rp 50 juta sebulan. Di negeri tercinta, Indonesia, orang berpenghasilan sebesar itu tentu masuk kategori berpenghasilan besar. Coba saja lihat mereka yang hari ini digaji UMR, tentu sangat jauh, bukan? Tapi benarkah penghasilan Rp 50 juta sebulan itu telah membuat orang tersebut berkecukupan? Atau dirinya sudah bisa disebut kaya?

Eits, tunggu dulu! Jangan langsung dijawab "iya". Coba kita kira-kira, seperti apa orang ini memperlakuka uangnya. Apakah dirinya telah memperlakukan uang dengan cara yang benar? Bila ternyata dirinya peduli dengan masa depannya, tentu dirinya akan berprilaku benar tentang cara memperlakukan uangnya. Tapi bila ternyata sebaliknya, maka celakalah finansianya kelak.

Mari kita cek pengeluarannya. Misalnya saja dirinya hedon, tiap bulan tour, makan di tempat mewah dengan menu yang mahal, belanja pakaian serba mahal, beli sepatu puluhan juta, jam tangan yang bermerek mahal, bahkan tasnya saja ada yang dihargai 600 juta, misalnya... Tentu saja penghasilan Rp 50 juta per bulan pun terasa sedikit. Belum lagi kebiasaannya yang sering gonta-ganti kendaraan atau gadget. Ini tentu saja tak bisa dikatakan sederhana. Padahal hidup sederhana itu anjuran agama!

Mentor terkenal di negeri ini, sebut saja Tung Desem Waringin, mengilustrasikan orang berpenghasilan Rp 50 juta sebulan, akan habis uangnya sebulan itu juga bila uangnya tidak diperlakukan dengan cara yang tepat. Bayar pajak penghasilan, sewa apartemen, belanja, bayar asuransi, bayar tagihan listrik, tagihan telepon, tv berbayar, fitnes, jalan-jalan, dan seterusnya.... akan habis Rp 50 jutanya.

Bandingkan dengan orang yang gajinya katakanlah Rp 5 juta. Dengan beban pengeluarannya yang dikendalikan, orang macam ini masih peduli investasi demi masa depannya. Misalnya saja dia sisihkan Rp 1 juta per bulan untuk membeli reksadana.


Nabung Reksadana Bisa Untung Lebih?


Per April 2017 lalu, Detik melansir berita tentang reksadana berkinerja terbaik.


Reksadana Saham :


  • KAM Kapital Syariah return 31,37%

  • DMI Dana Saham Syariah return 29,01%

  • Millenium Equity Prima Plus 25,43%

  • Equity Syariah return 22,04%

  • Treasure Saham Berkah Syariah 21,68%


Reksa Dana Campuran :


  • Millenium Balance Fund return 13,15%

  • Pacific Balance Syariah return 8,7%

  • MNC Dana Kombinasi return 7,3%

  • Mega Asset Mixed return 6,9%

  • Mega Dana Kombinasi 6,8%


Reksa Dana Pendapatan Tetap :


  • Mega Asset Mantap return 11,06%

  • PNM SBN 90 return 4,18%

  • SAM Dana Obligasi return 4,16%

  • Archipelago Sukuk Syariah I return 4,13%

  • Bahana Prime Income Fund return 4,11%

Melihat performa yang ditampilkan diatas, tetlihat sekali bahwa reksadana berbasis saham lebih mampu berbicara banyak dibandingkan dua jenis yang lain. Tapi kali ini saya tak akan membahas perbandingan ini. Saya hanya akan sampaikan hal yang masih sama alurnya dengan kisah orang perpenghasilan Rp 5 juta, dan membeli reksadana Rp 1 juta per bulan.

Anggap saja dia memperoleh imbal hasil 15% dari investasinya di reksadana, bukan tumbuh seperti KAM Kapital Syariah return 31,37%. Akan jadi berapa uangnya setelah 30 tahun? Silakan hitung sendiri, lah. Misal selama 30 tahun bisa konsisten 15%, maka akan ada pertumbuhan 450%, kan?


Teladan dari Lantai Bursa Saham


Ada lagi kisah menarik di Indonesia, tentang karyawan bank swasta yang selama 17 tahun menginvestasikan uangnya di bidang saham. Orang itu kini terkenal karena kesabaran dan keuletannya berinvestasi. Dirinya menerapkan ilmu-ilmu Value Investing ala Warrren Buffett.

Setelah sukses, dirinya kini tinggal menikmati masa tuanya yang berkecukupan. Dari pengakuannya yang saya dengar langsung, dirinya setiap hari mampu membaca 4 koran terutama berita investasi. Dirinya tak merasa malu mengkliping koran yang menayangkan berita penting. Bila ingin tinggal di Inggris, dirinya mengaku siap saja menyewa kamar hotel hingga berminggu-minggu. Padahal dulu sekali dirinya hanya haryawan bawah yang gajinya juga tak begitu banyak. Tapi dirinya merasa bersyukur mengenal pasar modal. Siapa lagi orang ini kalau bukan Lo Kheng Hong.

Saya kira anda pun akan mampu melakukannya. Maksud saya berusaha memperlakukan uang dengan cara yang benar. Jadi, financial literacy ini lebih bicara tentang cara memperlakukan uang secara benar. Bukan tentang cara mencari penghasilan.

Sukses memperlakukan uang dengan bijak, bermula dari keinginan untuk berada pada kondisi kecukupan secara finansial di masa tua; yang dipersiapkan sejak lebih awal. Di masa kita hidup saat ini, ada banyak instrumen yang dipilih untuk menempatkan uang dengan baik. 

Tentu saja ini bukan berarti musti menghilangkan kebutuhan harian kita. Maksud saya, dari berapa yang sudah anda hasilkan, sebaiknya dibagi 2. Satu bagian untuk kebutuhan harian, sebagian yang lain yang musti anda kelola.


Risiko dalam Kehidupan Manusia

Mari kita mulai dari risiko hidup yang sudah hampir pasti dihadapi semua orang. Risiko yang saya maksud ada 3 : sakit, kecelakaan dan meninggal.

Perlindungan diri dari risiko hidup


Mungkin sebagian dari anda yang membaca tulisan saya hari ini sudah ada yang berjumpa atau terlibat dengan perusahaan asuransi. Maksud saya agen asuransi. 

Agen asuransi memiliki peran besar memberikan edukasi terkait pengelolaan keuangan dengan benar. Meskipun juga ada agen karbitan, alias masih anyar dan berpikir 'pokoknya closing'.

Mereka begitu gigih membuka cara pikir khalayak, sembari menggambarkan ilustrasi-ilustrasi tentang rentang waktu kehidupan manusia. Mereka juga punya pertanyaan mematikan yang sering dilontarkan kepada calon nasabahnya, misalnya "Siapa yang yakin di dunia ini yang tidak pernah sakit? Tidak akan pernah kecelakaan? Atau tidak akan mati?"


Begitu dahsyatnya pertanyaan tersebut, sehingga mampu menggetarkan hati calon nasabahnya. Belum lagi pernyataan berikutnya yang ditambahkan, yaitu "Apakah ketika risiko tersebut menimpa, kondisi finansial kita sudah siap?"

Baru kemudian agen tersebut menyodorkan seberkas dokumen yang memungkinan calon nasabah tersebut terproteksi ketika risiko tersebut terjadi. Tentu saja ada sejumlah uang yang musti ditabungkan secara berkala di perusahaan asuransi terkait. "Close!" ujar agen tersebut dalam hatinya.

Saya bisa bilang demikian karena saya pun pernah lulus ujian AAJI. Saya pernah punya nasabah. Ya, saya pernah jadi agen asuransi! Saat itulah saya banyak belajar tentang proteksi.

Seberapa jauh asuransi berperan bagi pengelolaan keuangan yang benar? Saya kira ada baiknya bila semua orang memiliki proteksi diri. Ada benarnya juga, bila 3 risiko itu menghampiri, maka anda sudah siap dengan proteksi yang ditawarkan perusahaan asuransi. Jumlahnya pun lumayan banyak, sesuai dengan plafon yang sebelumnya telah dipilih dan disepakati dalam klausul pengajuan SPAJ.

Bayangkan apabila anda tak punya proteksi! Tabungan yang selama ini anda kumpulkan dari penghasilan anda (gaji atau hasil usaha), akan terpakai untuk mengcover biaya yang dibutuhkan. Ya kalau cukup? Kalau kurang, bagaimana jadinya?

Para agen asuransi biasanya akan bilang "Jual aset!", "Hutang saja"; seperti itulah kata-kata ajaib yang pernah diajarkan kepada saya dulu untuk menggaet dan memprovokasi nasabah. Tentu saja solusi yang muncul tersebut (jual aset atau hutang) bukan merupakan solusi hakiki bagi anda.

Sebab, selain tabungan anda selama ini terkuras, anda pun tak bisa bekerja selama sakit. Padahal anda punya rencana untuk tabungan dan aset anda di masa mendatang. Tapi itu semua hilang begitu saja ketika risiko datang.

Pertama dan paling utama ingin saya katakan disini, silakan lindungi diri anda dengan proteksi yang sesuai.


BPJS


Saya saat ini merasa senang sejak pemerintah menggagas BPJS. Saya kira ini begitu mengena bagi masyarakat. Meski disana sini masih perlu banyak kaizen, langkah berani pemerintah ini layak disebut tonggak kebangkitan bagi negara dalam melindungi warga negaranya.

Saya pernah beberapa tahun tinggal di Jepang. Saya juga punya pengalaman dirawat di rumah sakit. Tapi karena saya punya proteksi, maka biaya yang saya tahu ratusan juta itu tak perlu saya keluarkan dari tabungan saya. Sebab saya punya proteksi.

Bahkan saya pernah dengar, rata-rata 1 orang di Jepang bisa punya 2 hingga 4 proteksi diri. Saya kira Indonesia pun nantinya akan menuju kesana juga : warganya sadar proteksi diri, pelayanannya pun semakin baik, memuaskan dan mudah.

Bila anda merasa perlu untuk memproteksi diri dari risiko hidup, saya anjurkan untuk segera membuka akun di perusahaan aruransi. Toh sekarang produk asuransi syariah pun begitu mudah diperoleh. Tapi bila hanya ingin diproteksi BPJS, saya kira itu sudah mendingan, daripada tidak sama sekali. Ya kan?

Silakan pertimbangkan baik-baik, bahwa pengelolaan keuangan yang baik, bermuka dari kesadaran anda sendiri. Terutama tentang proteksi diri terhadap risiko hidup. Barangkali akan mampu merubah paradigma berpikir anda, dari kurang peduli risiko menjadi peduli risiko.


Pemaparan diatas banyak membahas prilaku dari orang yang tetap masih bisa menyisihkan uangnya, serta penjelasan tentang proteksi diri dari risiko hidup. Berikutnya, saya akan mengungkapkan beberapa fakta tentang instrumen investasi. Barangkali saya di instrumen-instrumen investasi yang saya sebutkan inilah anda akan menempatkan uang anda.


Nabung Pasti Untung. Benarkah?


Sebelumnya, mari kita bongkar dogma yang sejak kecil telah merasuki pikiran. Dogma itu bunyinya "Nabung pasti untung". Banyak orang yang mengiyakan dogma ini. Tadinya pun saya juga sepakat. Tapi setelah saya pelajari cara mengelola uang yang benar, saya bilang bahwa nabung belum tentu pasti untung. Dimana dulu anda menabunglah yang justru menjadi kuncinya.

Bila anda menabung di bank, yang terjadi adalah anda akan mengalami depresiasi nilai uang yang anda tabung. Ini bisa terjadi karena ada kenaikan harga. Istilahnya inflasi.

Memahami inflasi itu sederhana. Bayangkan anda punya uang Rp 1 juta. Anda belanjakan semua sampai habis. Setahun kemudian, belilah barang yang sama dengan uang Rp 1 juta juga. Tentu anda tahu, anda tidak akan memperoleh barang-barang tersebut karen mengalami kenaikan harga, bukan?

Nah, kenaikan harga inilah yang dihitung oleh BPS. Mereka menghitung secara rata-rata dari kenaikan harga-harga barang di seluruh Indonesia. Ini penting bagi perekonomian Indonesia. Bahkan saking pentingnya, asumsi inflasi ini dimasukkan dalam APBN.


Instrumen Investasi, Tempat yang Unik untuk Menempatkan Uang


Setelah sedikit ulasan tentang dogma yang menggelitik diatas, mari kita beralih ke beberapa instrumen investasi.


1. Tanah/Property


Dari tahun ke tahun harga tanah naik ±15%. Bahkan bisa jadi lebih besar dari 15% apabila lokasinya strategis dan banyak peminatnya. Tentu anda pernah lihat acaranya Metro TV tentang penjualan property. "Harga naik bulan depan", dan seterusnya.... Itulah bumbu-bumbu sedap terkait potensi kenaikan harga property.

Saya kenal orang di Jawa Timur yang gemar sekali membeli tanah. Orangnya hari ini sedang pergi haji bersama istrinya. Dari pengakuannya, dia bisa untung hingga puluhan juta untuk sebidang tanah yang dibelinya. Padahal dari pengalamannya, keuntungan itu diperoleh dalam rentang satu tahun!

Selidik punya selidik, orang itu ternyata mengamalkan nasihat nenek moyang orang Jawa. "Belilah tanah, sebab tanah tak akan pernah turun harganya". Nenek moyang kita ternyata sudah tahu hal ini. Ternyata mereka sudah kenal konsep investasi. Ternyata pula, konsep itu masih dan akan selalu relevan meski masa telah berganti. Hebat, bukan?

Sedikit hal lain diluar bahasan saya hari ini, yang membuat saya merasa kurang karena tak mampu seperti orang ini, dirinya masih mampu mengingat nama-nama leluhurnya hingga 6 generasi diatasnya. Amazing! Saya tak yakin anda memiliki kemampuan langka ini.

Ah, kenapa pula melenceng kesitu. Mari kembali ke pembahasan tentang instrumen investasi.

Kelebihan membeli tanah/property tentunya harga yang terus naik. Tapi disisi lain, instrumen ini kurang liquid. Selain butuh uang yang relatif banyak, bila anda jual beli tanah/property, jarang sekali yang bisa dilakukan transaksi seketika itu juga selesai. Tapi apabila anda termasuk orang yang punya tipe 'tak masalah' terhadap jumlah uang dan waktu yang perlukan, saya sarankan anda tetap memletakkan uang di instrumen ini.


2. Emas


Saya paling suka bicara emas ketika dikaitkan dengan time frame atau rentang waktu. Maksud saya, coba membayangkan harga emas beberapa tahun yang lalu. Kemudian bandingkan harga emas hari ini. Anda mungkin akan bilang begini "Kalau tahu bakalan seperti ini, dulu seharusnya uang saya dibelikan emas semua!" Menurut saya itu reaksi yang wajar. Tapi, masa depan siapa yang tahu?

Malahan ada joke begini : "Saya heran, kenapa harga barang di dunia ini semakin lama semakin turun, ya?"

Dua gambar diatas mengilustrasikan uniknya cara pikir orang-orang yang memilih emas sebagai instrumen investasinya.

Gambar diatas bicara tentang apa yang telah terjadi dari 1991 hingga tahun 2012, disambung dengan kemungkinan konstan pertumbuhannya di masa mendatang.

Mari kita telaah yang telah terjadi terlebih dahulu. Maksud saya rentang 1991 - 2012. Nyatanya, 1991 lalu, emas dihargai Rp 13 ribuan. Dan 2012, atau ketika saya mempresentasikan gambar ini di Pesantren Mahasiswa Alhikam Malang, harga emas kisarannya Rp 600 ribuan. Wooww.....! Ini menakjubkan untuk ukuran imbal hasil investasi.

Tapi coba lihat dari 2012 hingga 2017, ternyata emas belum juga beranjak dari rentang Rp 500 ribu - Rp 600 rubuan. Padahal bila melihat gambar diatas, angka seharusnya beraa di Rp 1,5 jutaan. Tapi apakah beberapa tahun kedepan angkanya akan tumbuh? Siapa yang tahu?


3. Saham


Disinilah saya saat ini berada. Pasar saham. Sejak terjun tahun 2011 silam, saya merasakan gejolak yang unik pada diri saya. Saya kira ini berkaitan dengan naik turunnya harga saham. Maksud saya kerugian yang pernah saya alami. Itu terjadi ketika 3 tahun pertama saya di bursa saham. Padahal bila saya review sebab-sebab saya rugi, ternyata sebabnya hanya satu : saya tak cukup tahu!

Padahal bila bicara peluang, pasar saham menawarkan peluang yang sangat fantastis. Ini berkaca dari fakta orang-orang sukses di bursa macam Lo Kheng Hong, misalnya.

Kesaksian Lo yang mampu mendulang 150.000% capital gain di pasar saham tentunya bukan kebetulan. Andapun bila gigih mempelajari dinamika pasar saham, akan mampu mengikuti jejaknya.

Prinsip dasar yang membuat saya suka di pasar saham ada kaitannya dengan niat perusahaan didirikan. Apa itu? Ya cari untung, dong.

Pada postingan saya berikutnya, saya tentunya akan banyak mengulas tentang bidang yang saya jadikan fokus : Pasar Saham. Juga dengan segala fenomenanya, menurut sudut pandang saya.

Demikian sharing saya hari ini tentang Melek Manajemen Keuangan Keluarga Zaman Now. Mungkin masih ada instrumen investasi lain yang belum saya bahas. Saya minta maaf bila belum ulas kali ini. Semoga yang ini bisa bermanfaat. Mohon share postingan ini ke teman-teman anda. Siapa tahu ada yang butuh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel