Berapa Harga 'Nasihat' Investasi?

pasar saham

Pasar saham itu begitu unik. Apalagi bila dikaitkan dengan prilaku para praktisi yang menginvestasikan uangnya di pasar saham. Sebagian besar praktisi di pasar saham tak begitu peduli dengan pendapatnya sendiri. Kelompok ini meletakkan uangnya di emiten tertentu hanya dengan mendasarkannya pada 'nasihat' yang diterimanya. Mereka merasa bahwa dengan memperoleh 'nasihat' dari para profesional, investasinya akan menguntungkan.

Hey, sadar! Di dunia ini tak satu pun orang yang bisa melihat masa depan; juga para profesional itu. Apabila anda amati baik-baik, dari sekian banyak 'nasihat' yang beredar, biasanya harganya murah atau bahkan gratis, kerap kali antara profesional yang satu dengan profesional lainnya bertolak belakang. Justifikasi hanya diperoleh setelah waktu berlalu, membuktikan siapa yang lebih jago 'menebak' arah harga. Bagi saya ini konyol.

Saya suka sekali dengan joke yang pernah saya baca di buku yang membahas tentang Revolusi Orange. Disitu disinggung tentang prilaku para ekonom. Begini bunyinya "Apabila ada 6 ekonom berpendapat, maka akan ada 7 pemikiran yang muncul diantara mereka". Sangat beragam. Padahal objek yang dipikirkan itu sama. Tapi kenapa hasilnya malah lebih banyak dari jumlah ekonomnya? Dan, parahnya lagi, apabila ini dikontekskan dengan pasar saham, bagaimana mungkin saya meletakkan uang saya hanya dengan mengandalkan 'nasihat' yang warna-warni itu? Percaya atau tidak, sampai hari ini belum ada standard baku yang bisa kita peroleh dari hasil investasi dari peran penasihat anda. Ayolah, baca...baca...baca... Saya percaya membaca adalah skill yang saat ini telah melekat pada diri kita semua.

Dalam The Intelligent Investor karya Benjamin Graham, diulas tentang fenomena ini. Jika investor ingin mendasarkan keputusannya dari para penasihat itu, ada 2 hal yang bisa dipilih salah satunya. Pertama, membatasi diri dengan ketat pada bentuk-bentuk investasi yang konservatif dan tidak aneh-aneh. Kedua, anda memiliki kedekatan yang sangat baik dengannya. Apabila anda hanya memiliki kedekatan yang tak begitu dekat atau malah tak kenal sama sekali, silakan saja menerima 'nasihat' itu dan dilanjutkan dengan analisa secara matang. Dengan demikian, maka rekomendasi yang diterimanya akan bisa diteruskan sebagi dasar investasi atau tidak sama sekali.

Perhatikan ini. Profesi di industri keuangan hari ini terlihat mentereng. Penghasilan atau gaji mereka pun terbilang tinggi apabila dibandingkan industri lain. Termasuk para penasihat investasi. Perusahaan yang memiliki bidang jasa sebagai penasihat investasi memiliki kesadaran penuh untuk tak menyebut dirinya sebagai perusahaan yang dapat melipat gandakan investasi nasabahnya.

Mereka mengedepankan logika yang masuk akal dalam mengelola dana nasabahnya. Apabila faktanya mereka mampu menghasilkan lebih sedikit saja dari logika berinvestasi, tentu saja mereka memang berjuang mati-matian untuk hal itu. Itulah gambaran perusahaan jasa penasihat investasi yang mapan di era sekarang ini.

Sebenarnya, apa yang disebut era DT (data technology) oleh Jack Ma, hari ini telah menunjukkan peran yang signifikan. Anda mengenal BI, OJK, Pefindo, Badan Pusat Statistik, Disperindag, Kadin, Kemenkeu, dan seterusnya. Data-data yang tersaji dari lembaga-lembaga ini sangatlah berharga. Belum lagi data-data dari lembaga internasional yang sebenarnya juga tak dibuat sembarangan. Semua data yang bisa diperoleh dari lembaga-lembaga itu bisa anda pakai apabila anda menghendaki analisa secara individu.

Sebenarnya, nilai penasihat investasi itu tergantung dari prilaku investor yang meminta nasihat itu sendiri. Apabila pertanyaan yang diajukan seorang investor kepada penasihat investasi hanya seputar "Apakah saham ini bagus?", itu sebenarnya mengarah pada penafsiran tentang peluang harga saham emiten yang akan naik dalam beberapa hari kedepan. Jelas sekali, pertanyaan ini menghendaki jawaban "ya" atau "tidak". Untuk memperoleh jawaban itu, saya menebak bahwa penasihat tersebut langsung melihat grafik harga dan memberi jawaban secara cepat. Sayangnya, seringkali ini mengabaikan bisnis emiten itu sendiri.

Padahal, apabila investor memiliki kepedulian terhadap investasinya, mereka akan mengajukan pertanyaan berbeda, mengolahnya sebagai referensi, lalu memasukkannya kedalam data-data lain yang dimilikinya, baru kemudian mengambil keputusan terhadap investasinya.

Saya tak tahu apakah informasi yang beredar begitu murah, bahkan gratis, akan diberikan oleh perusahaan penasihat investasi. Saya kira tidak.

Logika saya bilang bahwa apabila ada informasi yang bernilai di perusahaan penasihat investasi, apabila ada nasabah atau siapa pun yang menginginkannya, maka harus ada sejumlah fee yang musti dikeluarkan untuk informasi tersebut.(*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel