Rasio Likuiditas

- Kamis, Maret 22, 2018
Rasio Likuiditas - Ada beberapa hal yang dibahas pada Rasio Likuiditas. Diantaranya adalah rasio lancar atau current ratio, rasio sangat lancar atau quick ratio, rasio kas atau cash ratio, rasio perputaran kas atau cashflow ratio, serta inventory to net working capital. Berikut penjabarannya, lengkap beserta contoh-contoh yang terjadi di pasar saham.

1. Current Ratio (Rasio Lancar)

1.1 Pengertian

Rasio Lancar atau Current Ratio adalah perhitungan yang dipakai untuk mengetahui dan mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau kurang dari satu tahun. Rasio lancar ini sering kali dikaitkan dengan tingkat keamanan atau margin of safety bagi perusahaan atas pembayaran kewajiban yang segera jatuh tempo.

Perlu dipahami di awal, bahwa current assets atau asset lancar meliputi beberapa komponen. Diantaranya adalah dana cash, dana di bank, surat-surat berharga, piutang di rekanan bisnis, stock yang bisa segera diolah dan dijual, penerimaan pra-penjualan, penerimaan pinjaman, dan lain sebagainya.

Sedangkan komponen current liabilities atau kewajiban lancar meliputi beberapa bentu. Diantaranya adalah hutang dagang, hutang bank yang jatuh tempo satu tahun ini, hutang gaji, hutang pajak, hutang pembayaran dividen, pre-payment, hutang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini, serta hutang jangka pendek lain yang juga jatuh temponya tahun ini dan tak bisa ditunda lagi.

jatuh tempo rasio likuiditas
Jatuh tempo menghantui keuangan perusahaan

1.2 Rumus dan Manfaat Current Ratio

#Rumus

Perhitungannya dilakukan dengan membandingkan antara current assets (asset lancar) dengan current liabilities (kewajiban lancar). Semakin besar hasil perhitungannya, berarti perusahaan semakin memiliki kemampuan melunasi kewajiban-kewajiban lancarnya. Sebaliknya, bila hasil perhitungannya kecil, perusahaan dianggap tidak aman, sehingga perlu upaya penggalian dana baru.

Current Ratio = Current Assets : Current Liabilities

#Manfaat mengetahui current ratio

Namun demikian, apabila perusahaan memiliki current assets yang terlalu besar dari current liabilities, juga diasumsikan tidak efektif. Kenapa demikian? Asumsi ini muncul karena perusahaan memiliki dana yang dianggap ‘ngendon’ atau kas tidak dipakai secara maksimal. Padahal pencapaian target perusahaan akan semakin baik apabila penggunaan dana cash atau setara cash dipakai secara efektif.

Lalu kondisi yang bagaimana bisa dianggap efektif? Caranya dengan mengetahui perbandingan perusahaan-perusahaan di industri sejenis. Rata-rata hasil perhitungan di industri sejenis akan membuat objektifitas perhitungan current ratio ini menjadi lebih rasional.
Beberapa manfaat rasio likuiditas :
  1. Tahu kalau perusahaan mampu membayar kewajiban atau utang yang segera jatuh tempo.
  2. Tahu kalau perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendek dengan current assets secara keseluruhan.
  3. Mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan current assets tanpa perlu memperhitungkan sediaan atau piutang.
  4. Komparasi jumlah sediaan dan modal kerja perusahaan.
  5. Landasan menentukan masa depan terkaitan dengan perencanaan dana kas dan utang.
  6. Tahu posisi likuiditas perusahaan dalam time frame tertentu.
  7. Mengetahui kelemahan perusahaan, sehingga bisa diantisipasi sejak dini, alias mitigasi risiko.

1.3 Studi Kasus

Penerapan konsep dari penjelasan diatas, bisa jadi memiliki karakteristik berbeda-beda di tiap-tiap sektor industri. Misalnya, apabila membicarakan industri perbankan yang padat hutang, tak bisa disamakan dengan industri barang konsumsi atau manufaktur.

rasio likuiditas, current ratio, rasio lancar
Beda sektor industri, likuiditas juga beda

#WTON VS WSBP

Agar komparasi yang dilakukan bisa 'apple to apple', sebaiknya membandingkan perusahaan-perusahaan yang mirip atau berada pada satu sektor. Dalam hal ini kita akan tengok perusahaan Wika Beton atau WTON dan Waskita Beton Precast atau WSBP. Seperti apa rasio lancar kedua emiten ini? Mari kita intip sekilas.

Dari Laporan Keuangan Tahunan 2017 WTON dan WSBP diperoleh angka-angka seperti yang tertera pada gambar dibawah. Current assets WTON naik 1,911,440,254,666 atau sekitar 78%, liabilities WTON malah naik lebih dari 200%. Sementara itu, WSBP mengalami kenaikan current assets dari 11,2 T ke 11,5 T. Current liabilitas WSBP naik dari 4,8 T menjadi 7,5 T. Ini juga dapat menerangkan rasio hutang perusahaan.

Dari paparan data diatas, terlihat bahwa kedua perusahaan beton ini sama-sama mengalami kenaikan baik aset maupun hutang dari tahun 2016 ke tahun 2017. Namun demikian, keduanya memiliki rasio hutang lancar yang lebih kecil dibandingkan dengan aset lancar. Artinya keduanya sama-sama memiliki safety of margin yang baik.

Tapi bila harus mengukur mana yang lebih baik kemampuannya dalam membayar hutang, tentu saja saya akan sepakat dengan anda untuk menunjuk WSBP yang lebih mampu membayar. Tapi apakah lantas kita bisa menilai WSBP lebih baik dari sisi current ratio? Bila ingin menjawabnya, maka harus membandingkan lagi dengan beberapa perusahaan sejenis lalu merata-rata nilainya.

WTON VS WSBP FINANSIAL STATEMENT 2017
Data finansial WTON dan WSBP 2017 dan 2016
Current Ratio WTON dan WSBP 2017
Current Ratio WTON dan WSBP

Advertisement
 

Start typing and press Enter to search