Tips Sukses Investasi Saham

tips-sukses-investasi-saham

Investasi itu kerja keras!

Ingin sukses investasi saham, maka anda perlu kerja keras. Lho, kok bisa? Bukankah hal yang selama ini beredar dimana-mana adalah sukses investasi dengan cara yang mudah?

Ya memang begitulah hal-hal yang sering beredar. Coba pikir sejenak, sukses investasi dengan cara yang mudah itu apakah benar-benar terjadi secara masif?

Saya tidak yakin jawabannya IYA. Sebab, sampai hari ini, tidak banyak orang yang benar-benar mampu meraih kesuksesan berinvestasi.

Kalau saja standard keberhasilan investasi itu beli saham, sehari langsung untung 2%, atau malah 20%, mungkin ada karena faktor keberuntungan. 

Tapi apakah keberuntungan akan terus menyertai? Bagaimana bila esok hari dan masa-masa mendatang dirinya malah tekor lebih banyak daripada sebelumnya? 

Alih-alih ingin meraih kesuksesan, malahan yang terjadi adalah sebaliknya.

Jadi, tidak ada sebuah keberhasilan yang bisa diraih secara hakiki tanpa didahului kerja keras. Ini sama dengan yang telah dilakukan oleh Lo Kheng Hong, Warren Buffet, Sir John Templeton, Peter Lynch, George Soros, serta sederet nama yang mungkin pernah anda ketahui saat ini.

Diversifikasi

Saat kejatuhan Lehmann Brothers tahun 2008 lalu, ada serangkaian aksi jual dimana-mana. Investor individu pun pada ikut-ikut jualan juga.

Ada tips yang memungkinkan anda dapat survive dengan membagi investasi anda bukan hanya pada saham saja. Anda bisa melirik deposito, properti, emas, atau bahkan sektor real.

Meskipun demikian, apabila anda menempatkan uang anda pada 10 item investasi, atau mungkin lebih, hal ini malah riskan sekali dengan risiko tinggi. Sebab pengawasan tiap item investasi akan membutuhkan waktu.

Hal ini sebenarnya analog dengan membeli saham. Ada istilah terkenal yang hampir mirip dengan dogma. 

'Jangan meletakkan telur pada satu tempat yang sama'. Tapi jangan terlalu banyak juga tempatnya, agar tetap dapat mengawasinya.

Pasar dinamis perlu strategi

Ada kisah memilukan terkait kejatuhan AIG. Saat itu AIG jatuh dari $80 ke $1 dalam 12 bulan. Ini mengerikan.

Sebelum hal ini terjadi, AIG memiliki catatan yang mentereng. 

Namun ternyata hal itu tak menjadi jaminan sahamnya dapat bertahan saat banyak investor menjual sahamnya dengan alasan-alasan yang dipicu berita yang terkadang kebenarannya masih diperdebatkan. Saham AIG pun bergerah diluar perkiraan.

Melirik di dalam negeri, saat proyek infrastruktur digenjot habis-habisa oleh pemerintah, tidak ada jaminan saham-saham sektor ini akan pasti naik.

Jadi, kata kunci yang musti dipegang adalah 'tidak ada jaminan apapun terkait strategi yang mengatakan pasti sukses di pasar saham'.

Rugi segera keluar, untung tetap bertahan

Investor kakap dan investor teri, memiliki perbedaan cara pikir. 

Investor kakap tak begitu nyaman melihat portofolio sahamnya merah. Apabila terjadi kerugian, dirinya segera keluar dari pasar dan menganalisa sebab-sebabnya.

Sebaliknya, apabila untung, dirinya mampu bertahan bahkan sangat lama di pasar. Dirinya mau saja membiarkan sahamnya naik, bahkan hingga bertahun-tahun.

Beda dengan investor teri. Tidak tahan untung, tapi malah tahan rugi bertahun-tahun. 

Saat membeli saham, untung beberapa persen saja sudah bingung mau menjualnya. Berpikir akan segera melakukan hal yang seperti itu lagi pada pembelian berikutnya.

Tapi bila rugi, dirinya mampu bertahan begitu lama dengan penderitaan. Biasanya menghibur diri, 'investasi jangka panjang' atas keterpurukannya.

Kakap dan teri disini bukan semata-mata tentang jumlah uang anda di pasar saham. Tapi juga tentang cara pikir.

Tahu diri : antara kelebihan dan kelemahan itu perlu diketahui oleh diri kita sendiri

Ketika mengetahui kelebihan dan kelemahan diri sendiri, akan menjadi hal positif bisa sukses investasi saham.

Hal ini erat kaitannua dengan kontrol antara keinginan dan kebutuhan. Kadang keinginan menguasai seseorang; padahal bukan kebutuhan.

Ada tips sederhana tentang evaluasi diri. Bila anda belanja di minimarket, lalu membayar belanjaan anda dan keluar begitu saja, maka keinginanlah yang dominan.

Tapi bila anda bersedia 'survei' di tempat lain untuk komparasi harga barang yang akan dibeli, memperhatikan momen diskon kapan sering digelar, dan sebagainya; maka ini termasuk mengedepankan kebutuhan.

Membeli saham mirip dengan kondisi diatas. Saat tren sedang berlangsung, maka harga pakaian yang lagi tren itu akan melambung karena diburu banyak orang. 

Tapi setelah tren selesai, anda sebenarnya masih bisa membeli bahkan dengan harga yang jauh lebih murah. 

Meski ketinggalan tren, tapi anda tidak perlu membayar untuk gengsi anda, sambil berharap harga saham yang dibeli di harga diskon akan naim di kemudian hari.

Demikian sedikit kabar baik tentang tips sukses investasi saham. Meskipun tak banyak, semoga bermanfaat. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel