Langsung ke konten utama

Membeli Masa Depan, Bisakah?

Sebuah Studi Komparasi

membeli masa depan

Toko Bang Joe, mampu meraup untung Rp 100 juta dalam 3 bulan.

Sementara toko Makmur hanya mampu membukukan keuntungan Rp 27 juta dalam waktu yang sama.

Apakah toko Bang Joe lebih baik performanya dari pada toko Makmur? Jawaban saya : belum tentu.

Bila dilihat sekilas, atau hanya mengatakan laba saja, tak bisa dipungkiri bahwa toko Bang Joe lebih unggul.

Namun dalam bisnis bukan hanya mempertimbangkan laba saja.

Ada beragam faktor yang bisa ditinjau dalam komparasi bisnis.

Jangan-jangan toko Makmur hanya menjual 2 barang saja untuk meraup untungnya; tapi toko Bang Joe harus berjibaku menggaet 1 juta pelanggan untuk meraih angka itu.

Bila demikian adanya, saya yakin anda akan condong ke toko Makmur bila diminta memilih mana yang lebih baik.

Toko Makmur tak perlu repot-repot mengurusi 1 juta pelanggan, tapi hanya 2 pelanggan saja.

Lantas apa lagi yang bisa dikomparasikan? Saya sering kali meninjau fakta dan seberapa jauh bisnis itu akan bertahan di masa depan.

Tentang fakta, saya mengamati laporan kuartalan.

Disitu mencakup total penjualan, total laba bersih maupun total hutang dan total ekuitas.

Sementara tentang masa depan, saya mengujinya dengan pertanyaan sederhana, '20 tahun lagi dari hari ini, apakah bisnis ini masih laku?'

Bila jawabannya iya, maka bisnis ini OK.

Mari kita melihat 2 bisnis yang berada pada sektor yang sama.

Orang bijak bilang, apple to apple perlu dilakukan bila mau objektif.

Tentu masuk akal, dong; anda membandingkan Avanza dan Xenia.

Tapi tak masuk akal bila membandingkan keduanya dengan Kapal Pesiar.

Itu akan terlihat konyol, lah.

Penerapan di bursa

Baiklah, kita coba masuk ke sektor property. As you know, property merupakan satu dari sekian sektor di bursa.

Silakan cek laporan keuangan semester 1 tahun 2016 antara Bumi Serpong Damai, Tbk. (BSDE) dan Alam Sutrea Realty, Tbk. (ASRI).

Anda bisa lihat, BSDE mampu menjual Rp 2,8T yang tertera pada pendapatan usaha.

Dari penjualan tersebut, BSDE meraup laba sebelum pajak sebesar Rp 908 M.

Sedangkan ASRI memperoleh pendapatan total Rp 1,2 T dan meraup keuntungan sebelum pajak Rp 568 M.

Mana yang lebih baik? Bila besaran angka yang anda lihat, tentu anda akan menunjuk pada BSDE. Saya pun demikian.

Rp 908 M dan Rp 568 M jelas bedanya. Namun bila anda menggunakan persentase, benarkah ASRI lebih buruk dari BSDE?

Munculnya Rasa 'KEPO'

Ini menariknya di bursa.

Logika sederhana yang diterapkan pun sudah mampu membawa para pelaku mengambil keputusan investasinya.

Jadi hanya dibutuhkan keterampilan menghitung dan membaca - sebuah skill yang telah melekat pada diri anda - untuk bisa membuka peluang sukses itu.

Bila anda merasa belum puas dengan analisa diatas, its OK. Saya suka itu.

Memang sebaiknya bukan hanya mengandalkan 1 analisa sebagai landasan mengambil keputusan investasi anda.

Apakah cara-cara yang bisa dipakai berikutnya akan semakin sulit, semakin sulit lagi dan lagi? Ah, sudahlah....

Begini, sebelum saya tunjukkan dua emiten diatas, apakah anda sudah tahu angka dari penjualan kedua emiten itu?

Bila sudah, percayalah anda setingkat lebih beruntung. Bila belum, saya kira orang hanya akan menduga-duga saja.

Tanpa kepastian yang JELAS.

Tapi setelah tahu dari membaca artikel ini, dan anda merasa itu mudah, maka saya senang.

Semoga saja anda juga senang. Karena sebenarnya hanya seperti itulah situasinya. Bila anda tahu, ternyata mudah.

Pada analisa tingkat berikutnya, saya kira anda akan bisa menemukan perbedaan hutang, aset, CAPEX, EBITDA, dividen, EPS, ROE atau apapun istilah analisa yang sulit-sulit itu, terserah anda mau seberapa banyak menggunakan analisa.

Konon, banyak orang bilang semakin banyak analisa semakin baik.

Meski sejujurnya saya tak begitu sependapat dengan analisa yang terlalu banyak sebelum membeli saham.

Barangkali perlu anda tahu, saham yang saya beli sepanjang 2016 ini, tak satu pun yang jual rugi. Semuanya naik dan jual untung. 
Saya tidak tahu apakah saya mujur atau beruntung. 
Yang pasti saya membuat dasar atas keputusan investasi saya di bursa. 
Kalau anda bilang untuk bisa berhasil saya butuh sederet gelar ekonomi, misalnya, barangkali saya sudah mundur teratur sejak 2011 lalu. 
Toh faktanya saya masih ada disini, sharing pengalaman dengan anda.

Lalu kenapa judul posting ini "Membeli Masa Depan"?

Begini, bila anda menganalisa perusahaan yang bidangnya property, maka ketersediaan lahan menjadi faktor yang penting bagi kelangsungan bisnis di masa depan.

Semakin luas, jelas semakin terjaga potensinya untuk terus bisa menggunakan lahannya di masa-masa mendatang.

Begitulah bisnis. Semakin terjaga sumber bahan bakunya, semakin baik bagi kelangsungan masa depannya.

Betul, kan? Pertanyaan saya selanjutnya kali ini, seberapa besarkah rasa ingin tahu anda di dunia bursa?

Silakan bila anda ingin Membeli Masa Depan.

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…