Langsung ke konten utama

Broker (hanya) Perlu Transaksimu, Selebihnya Tidak!

Pernah nonton film The Wolf of Wall Street? Perhatikan sinopsisnya versi Indonesia disini, atau versi Inggrisnya disini.

Film ini begitu memikat, apalagi bila anda benar-benar memahami istilah-istilah yang ada di bursa.

Tentu saja bila anda memiliki akun bursa saham, akan familiar dengan itu.

Ini tak jauh-jauh dari bentang Broker, transaksi, dan anda yang menonton film.

Apa yang unik di film yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio ini?

Setidaknya secara tegas telah saya sebutkan di bagian judul : Broker (hanya) Perlu Transaksimu, Selebihnya Tidak! 

Betapa Jordan Belfort gigih sekali meraih deal transaksi, apapun kondisinya asalkan deal, maka dia senang. Dia dapat komisi.

Jordan melewati berbagai cara, halal ataupun tidak, agar dapat membesarkan perusahaannya.

Jordan pun terpaksa memasuki kehidupan barunya sebagai seorang yang sukses, meskipun harus bercerai dengan istri lamanya dan menikah lagi dengan wanita yang baru.

broker saham

Dia juga berurusan dengan FBI, pemilik bank Swiss, narkoba, dan petualangan lainnya yang rumit.

Begitulah film tersebut sukses besar, saat oprning weekend mampu meraih $18.510.000 di USA per 27 December 2013. 

Wajar saja bila IMDb  memberinya angka sangat tinggi, yaitu 8,2.

Apa kaitannya dengan dunia nyata?

Saya kira film diatas sangat erat kaitannya dengan kondisi nyata, apalagi bila anda seorang pelaku di bursa saham.

Bila anda punya akun, tentu anda sering atau malah tiap hari terima email.

Malah sekarang dalam era IT yang berkembang pesat, media sosial mengambil perannya dengan porsi yang berlebih.

Sebut saja, broadcast grup di Whatsapp, Telegram,  atau BBM; saya kira akun-akun disini sangat akrab dengan Smartphone anda semua.

Malah saya tahu beberapa orang memanfaatkan broadcast tersebut sebagai bisnis.

Maksud saya menjadikan anda harus membayar bila menerima broadcast dari mereka.

Lantas apa isi broadcast tersebut, sehingga begitu berharganya? Begini, saya tidak menyoroti isi broadcast-broadcast tersebut.

Saya hanya akan menyampaikan hal yang akan anda lakukan setelah anda menerima broadcast tersebut.

Apa itu? Saya kira hanya ada 2 hal yang akan anda lakukan.
  1. Mengikuti.

  2. Tidak mengikuti.
Saya pun tidak mempersoalkan sama sekali apakah anda mau mengikuti atau tidak.

Misalnya saya menerima email tentang STOCK SHOOT - SMBR 15 April 2016, yang isinya seperti dibawah ini.

"Berikut adalah Informasi stock shoot saham yang dapat membantu Bapak/Ibu dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi khususnya di pasar saham. Semen Baturaja Tbk (SMBR) Call : Sell, Last : 545, Target : 481 - 466, 52wk Range : 242- 560. 

Highlight : Potensi saham SMBR cendrung mengalami koreksi untuk menguji level 481 hingga 466, demikian potensi tersebut di sertai dengan kinerja SMBR yang berada dalam teritori overbought dengan potensi pelemahan, dan SMBR berada dalam teritori harga di kisaran garis resistance pada kisaran angka 570 hingga 554 ."

Saat melihat harga SMBR di email tersebut, seperti 'membantu' penerima email untuk mengambil aksi transaksi.

Apalagi bila melihat harga terakhir (Last) 545 dan Target 481 - 466. Bila anda merasa menerima petunjuk, tentu anda akan 'terbantu' untuk melakukan aksi sell.

Padahal bila anda sampai hari ini (30 Maret 2017) masih mengempit saham SMBR, saya yakin uang anda akan berlipat-lipat karena hari ini (30 Maret 2017) harganya 3330!

Artinya SMBR telah naik LEBIH DARI 5 KALI LIPAT.....! Jelas uang anda tambah banyak bila tidak menjual saham SMBR seperti yang 'disarankan' di isi email itu.

Pertanyaan saya hanya satu : APAKAH HARGANYA PASTI AKAN TURUN? Bila anda bijak, jawabannya adalah BELUM TENTU.

Siapa sih yang tahu kepastian di pasar modal? Saya kira tak satu pun orang punya.

Lalu kenapa ada pihak atau individu yang memberitahu anda, membantu anda, dan sebagainya.... bila ujung-ujungnya BELUM TENTU?

Konyolnya lagi, ada saja orang percaya. Bila salah, dia akan menyalahkan pemberi informasi.

Ingat, seluruh informasi yang disampaikan umumnya memiliki catatan kaki yang panjang.

Biasanya seperti ini :


Perhatian : Seluruh Informasi, keterangan dan dokumen yang disampaikan melalui media elektronik ( e-mail ) PT. XXXXXXXXXXXXX dan/atau anak perusahaannya ( Dokumen Elektronik ) hanya merupakan informasi dan/atau keterangan yang tidak dapat diartikan sebagai suatu saran/advise bisnis tertentu karenanya Dokumen Elektronik tersebut tidak bersifat mengikat. 
Segala hal yang berkaitan dengan diterimanya dan/atau dipergunakannya Dokumen Elektronik tersebut sebagai pengambilan keputusan bisnis dan/atau Investasi merupakan tanggungjawab pribadi atas segala risiko yang mungkin timbul. 
Sehubungan dengan risiko dan tanggungjawab pribadi atas Dokumen Elektronik, pengguna dengan ini menyetujui untuk melepaskan segala tanggung jawab dan risiko hukumXXXXXXXXXXXXX dan/atau anak perusahaannya  atas diterimanya dan/atau dipergunakannya Dokumen Elektronik.

Dari bagian bawah email tersebut, jelas sudah bahwa anda mengikuti atau tidak isi email itu, bagi pengirim tidak akan ada tanggung jawab apapun terhadap tindakan yang anda lakukan kemudian.

Sebaiknya anda membaca isi email yang dikirimkan broker tersebut begini : terserah anda mau untung atau buntung, yang jelas kami dapat komisi dari setiap aksi yang anda lakukan.

Hal ini tercermin dalam film yang sangat apik diperankan oleh Leonardo di Caprio itu, The Wolf of Wall Street.

Saya sendiri punya pandangan begini : bila caramu itu bekerja kenapa tidak kamu simpan saja untuk uangmu di bursa? 

Ingat, 'Broker (hanya) Perlu Transaksimu, Selebihnya Tidak!'

Meskipun demikian, saya berpendapat bahwa anda sebaiknya tak perlu antipati dengan broker.

Ingat, satu-satunya lembaga yang bisa memungkinkan anda berada di bursa adalah sekuritas; broker anda itu.

Hal penting yang bisa anda lakukan, barangkali hanya perlu menjadi diri anda sendiri; tentang segala keputusan anda di bursa.

Mau jualan, ya silakan saja jualan. Mau beli, ya silakan saja beli.

Untung-rugi, anda hanya akan melihat diri anda sendiri, tidak menyalahkan pihak lain.

Pengalaman Pribadi

Jujur, saya sendiri mengalami masa 'kegelapan' di bursa cukup panjang.

3 tahun pertama saya di bursa, saya habiskan waktu untuk mengikuti berita, mengikuti apa yang mereka namakan 'membantu' saya, dan sebagainya.

Apa yang terjadi? Sudah bisa anda tebak, saya sering loss.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata dari Warren Buffet, orang Omaha itu.

"Merekomendasikan sesuatu untuk dipegang selama 30 tahun adalah pengorbanan diri yang jarang anda lihat di sebuah biara, apalagi di sebuah perusahaan pialang (saham)" dikutip dari Marry Buffet & David Clark dalam bukunya Kata-kata Bijak Warren Buffet.

Teruslah belajar. Hanya ini satu-satunya jalan yang saya tahu agar anda bisa tahu banyak.

Silakan share ini ke teman-teman anda bila bermanfaat.(*)

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…