Langsung ke konten utama

​Saham AISA semakin Naik Turun, Asekkk?

investasi saham aisa

AISA Market Review

Tadi sore (18/9) saham AISA ditutup pas Rp 1000. Pecahannya cukup enak dilihat, Rp 1000. Angka utuh. Mau kemana kemudian? Ah, saya kira sebagian dari anda sudah tahu jawabannya : ‘AKAN NAIK!’ Begitu mungkin kira-kira jawaban anda apabila anda sedang punya saham AISA.

Apalagi sedang nyangkut, kayak punya saya. Sayangnya, jawaban anda tersebut berseberangan dengan apa yang dikatakan sebagian orang yang lain yang menebak harganya besok akan turun! “Kurang ajar sekali orang ini. Dia tak tahu kalau ada yang lagi nyangkut?!”

Ah, sudahlah. Hentikan main tebak-tebakan atau saling menyalahkan. Perhatikan faktanya, apapun keputusan anda di pasar saham, orang lain tak akan pernah memberi profitnya pada akun anda. Begitu juga bila anda rugi, tak akan ada seorang pun yang berbaik hati pada anda untuk menanggung kerugian yang anda derita.

Daripada mempersoalkan hal yang tak ada pangkal ujungnya, lebih baik kembali kepada logika berinvestasi yang benar. Logis berinvestasi. Bukannya malah gambling, tebak-tebakan tanpa dasar atau memakai dasar ‘katanga’, atau malah saling membenci. Hey, itu melenceng jauh, kisanak. Ingat, benci itu tak baik bagi kesehatan manusia!

Ok, mari kita sejenak menengkan diri dengan berpikir logis, agar investasi yang anda tempatkan di pasar saham dapat lebih terarah.

Saham AISA (atau saham-saham lain di sektor consumer goods) memiliki karakter produk perusahaan yang kuat terhadap permintaan. Secara klasikal, orang akan mudah sepakat bila ada perusahaan yang untung terus, sahamnya stabil. Sedangkan saham perusahaan yang tak begitu cantik performa keuangannya, harganya akan cenderung sulit dikenali pergerakannya. Padahal AISA merupakan perusahaan yang secara keuangan catatannya cukup baik.

Penjualan AISA per 31 Maret 2017 yang dicatat RTI terlihat seperti data diatas. AISA mampu menjual Rp 1,46 Triliyun dan Net Profit Rp 103 Milyar. Lumayan, kan? Iya lah. Untung....! Silakan cek emiten lain di sektor consumer goods seperti INDF, ICBP, MYOR; saya kira anda akan sepakat untuk tidak meremehkan kinerja AISA.

Tapi apabila anda menghitung nilai bukunya saat ini, berapa nilai bukunya AISA? Tentu saja anda akan mendapati perbandingan yang jomplang karena harga saham AISA berada dibawah nilai buku. Apakah ini peluang? Sepertinya begitu. Tapi mungkin juga bukan. Sebab, di pasar modal tak ada istilah yang pasti (apabila anda bicara jual besok, atau beli besok).

Perhatikan bisnis AISA diatas. Setidaknya, Aset AISA yang Rp 9,4 T itu terbagi kedalam lima sektor bisnis. Paling banyak ada di PT. Dunia Pangan dengan Rp 4,5 T. Disusul PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) dengan Rp 2 T, PT. Balaraja Bisco Paloma (BBP) dengan Rp 1,2 T, PT. Poly Meditra Indonesia (PMI) dengan Rp 748 M, serta PT. Patra Power Nusantara (PPN) dengan Rp 191 M.

Berita yang baru-baru ini deras membanjiri media adalah anak usaha PT. Dunia Pangan, yaitu PT. IBU. Perlu diketahui, bahwa PT. Dunia Pangan punya 5 anak perusahaan yang bergerak di bisnis beras, seperti gambar dibawah ini. Apabila ditinjau dari sudut pandang kekuatan pengaruh keuangan, mungkin saja pengaruhnya tak seheboh apa yang selama ini muncul di pemberitaan.

Apa yang sebenarnya terjadi di pasar?

Saya suka sekali mencermati yang seperti ini, aktivitas pelaku pasar. Perhatikan gambar dibawah. Saya melihat aktivitas asing minggu ini yang cukup menarik. Apabila anda mengira harga saham AISA sering kali mengikuti buy sell asing, sepertinya perkiraan anda tak bisa dibilang valid kebenarannya. Kamis lalu, AISA berjaya naik banyak. Asing net buy.

Ok, ini cocok lah dengan perkiraan diatas. 

Hari berikutnya, Jumat. Asing masih net buy, tapi faktanya AISA memerah. Ini sudah berkebalikan dari perkiraan. Lalu hari ini, asing net sell, AISA memerah lagi. Apabila pola yang tak jelas ini anda ikuti secara harian, saya tak bisa membayangkan seperti apa rasa pusing yang anda alami.

Kemudian, ada satu lagi hal yang bisa menjadi renungan bagi anda semua yang gemar merenung. Perhatikan aktivitas broker dibawah ini.

Dalam 2 hari terakhir di jam perdagangan saham, YP begitu dominan membeli AISA. Namun sayangnya, hal ini terjadi juga di sisi sebelah kanan, sisi seller. YP juga mendominasi sekali sebagai yang terbesar valuasinya. Saya tak ingin mengatakan bahwa YP memiliki sihir untuk mengatur pasar. Percayalah, pasar tak bisa diatur.

Tapi saya juga percaya apabila anda peduli dengan investasi anda, anda akan mengatur uang anda. Setidaknya anda memiliki money management yang anda susun demi masa depan anda.

Semoga investasi anda tetap tumbuh, meskipun anda berada ditengah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian.(*)

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…