Langsung ke konten utama

Tukang Leding di Pasar Saham, Memangnya Ada?


Investasi yang super dan dapat mempertahankan growth yang konsisten di pasar saham membutuhkan analisis yang super pula. Ketajaman investor melihat nilai intrinsik saham, akan membawanya kepada pengalaman-pengalaman baru yang akan membuatnya semakin mumpuni. 



Secara simpel, kemampuan melihat nilai intrinsik saham melibatkan ‘nilai sebenarnya’ dan berapa saat ini pasar menghargai saham tersebut.

Saya ingat sekali seperti apa kisah fiktif tentang tukang leding yang ahli memperbaiki saluran air yang rusak. Saking ahlinya, dia bekerja sangat efisien. Pernah suatu ketika pelanggannya bertanya padanya tentang biaya yang harus dibayar. “Biayanya berapa?” tanya pelanggan tersebut. “Rp 1 juta,” jawab tukang leding lugas. “Astaga, kenapa mahal sekali? Kau kan hanya menyambung satu pipa yang bocor itu!” pelanggan tersebut kaget. “Begini tuan, biaya menyambung pipanya tidak seberapa. Itu hanya perlu Rp 50 ribu. Pekerjaan saya inilah yang mahal, sebab saya tahu letak pipa mana yang bocor dan musti cepat-cepat diperbaiki.”

Kisah fiktif ini sepertinya analog dengan dunia pasar saham. Betapa tidak, banyak orang yang berkecimpung di pasar saham selalu berusaha membeli saham di harga yang tepat, lalu berharap segera naik harga sahamnya. Kenyataannya, tak semua orang mampu melakukan pekerjaan tersebut secara efisien. Kenapa bisa demikian? Sebabnya ya itu tadi, tak banyak yang tahu ‘dimana letak yang bocor’. Padahal bila orang-orang ini mengasah kemampuannya secara terus menerus dan sistematis, peluang untuk dapat memiliki kemampuan menentukan ‘titik mana yang bocor’ akan dapat dimilikinya.

Lalu bagaimana bagi kebanyakan orang yang tak mau mengasah kemampuannya? Saya kira kondisinya tak ubah seperti pelanggan yang pipanya rusak yang sudah saya sebutkan diatas. Mereka lebih suka mengandalkan orang lain, meski membayar mahal. Padahal orang lain yang diandalkannya itu sadar tak memiliki peluang perfect 100% seperti yang diharapkan oleh penanya. Penanya pun juga mengetahui bila ada ‘disclaimer on’ yang diberlakukan terhadap seluruh jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukannya. Betapa banyak grup chatting hari ini yang memungkinkan anda mendapati kondisi ini, kan?

Coba tenangkan diri anda sejenak. Pikirkan baik-baik investasi anda dengan lebih logis lagi. Saya sendiri punya satu kalimat pertanyaan yang pernah saya peroleh dari membaca buku tentang investasi. Begini ‘Bila itu (maksud saya rekomendasi) dapat berguna, kenapa tak disimpan untuk investasinya?’

Sebaliknya, apabila anda belajar dengan keras, peluang untuk menempatkan uang anda pada saham-saham yang memiliki nilai intrinsik menarik akan semakin terbuka. 

Bagaimana caranya?

Caranya, baca.... baca.... baca.... Terkesan klasik dan menjemukan, kan? Saya sepakat bila membaca merupakan aktiitas yang terkesan menjemukan. Tapi bila ini diselaraskan dengan keputusan-keputusan investasi anda di masa lalu, terutama yang salah, akan mampu menjadi trigger bagi anda untuk menikmati aktifitas yang sebenarnya menyenangkan. Membaca, satu skill khusus yang telah anda miliki, bukan?

Dengan terus membaca, anda akan punya ketajaman membandingkan antara risiko rugi dan potensi untung. Inilah sebenarnya dasar yang sangat kuat dijadikan pondasi berinvestasi. Ya, RISIKO vs UNTUNG.

Selanjutnya, anda akan berkembang terus setiap harinya. Anda juga akan dapat berjumpa dengan situasi unik, dimana anda akan mendapati orang-orang terbawa arus menjauhi titik logis (nilai intrinsik saham). Ada kalanya menjauhnya itu naik ke atas dan terus ke atas, atau sebaliknyasemakin nyungsep ke bawah. Bila dicermati, secara perlahan atau pun cepat, kondisi harga akan berusaha menuju titik logisnya.

Nah, disinilah uniknya. Anda akan senyum-senyum dengan situasi unik itu. Tapi anda akan tetap mampu memetik hasil investasi yang tetap menarik dengan mengandalkan pengamatan anda. Sebab siapa pun anda, peluangnya sama untuk bisa memiliki kemampuan yang efektif dalam 'memprediksi pipa yang bocor' dan menjadi 'tukang leding' di pasar saham.

Happy week end and happy investing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…