Langsung ke konten utama

Antara Pemilu dan Timbangan di Pasar Saham

pasar saham indonesia

Pasar saham itu laksana pemilu dalam jangka pendek, tapi mirip timbangan dalam jangka panjang.

Pikirkan baik-baik kebenaran pernyataan kalimat tersebut.

Tentu siapa saja yang berada di pasar saham sudah paham betul, bahwa apabila semua orang sepakat dengan sentimen positif sebuah emiten, beberapa waktu kedepan kecenderungan harganya naik, tentu peluangnya sangat tinggi.

Sebaliknya, bila sentimen negatif yang beredar dimana-mana, medsos, grup WA, supergrup Telegram, dan sebagainya; acapkali harga saham akan menukin sebab kuantitas yang masif akan menyeret prilaku pelaku pasar untuk menjual sahamnya.

Ya, ini analog dengan pemilu. Siapa yang banyak meraih suara, dirinya menang.

Tetapi sampai kapan analogi pemilu di pasar saham ini akan berlaku?

Saya percaya anda yang membaca tulisan ini memiliki penafsiran dan asumsi berbeda-beda apabila bicara sampai kapan situasi tersebut akan berlalu.

Kondisi sentimen positif, atau sebaliknya, seolah tiada henti, hilir mudik silih berganti menghiasi media di dunia ini.

Belum selesai dengan isu kemarin, hari ini ada lagi isu berikutnya yang menyelimuti emiten tertentu.

Begitu seterusnya.

Saya tak yakin apabila anda memiliki ketahanan psikologis dalam menampung suluruh isu-isu tersebut.

Maksud saya, saya tak yakin anda akan mampu berpikir jernih terhadap semua isu dan kejadian yang ada di jagad pasar saham.

Apabila anda hanya memikirkan satu, dua isu saja, saya masih setuju apabila anda masih dapat berpikir jernih.

Tapi tidak terhadap seluruh isu yang beredar. Itulah sebabnya, tokoh-tokoh besar di pasar saham seolah enggan memasukkan isu-isu yang setiap hari muncul berganti-ganti itu ke dalam kepalanya.

Warren Buffett pun berusaha menutup telinganya dari Wall Street untuk menghindarkan pikirannya dari isu-isu itu.

Apa yang dilakukan oleh Warren Buffett tentunya bisa dimaklumi. Dia menggunakan pasar saham untuk berinvestasi, bukan beli hari ini, lalu dijual esok harinya.

Ini berkebalikan dengan prilaku mayoritas pelaku pasar saham. Mayoritas orang hanya peduli "Apa yang bisa dibeli hari ini, lalu dijual secepatnya" daripada berinvestasi di waktu yang lama.

Perhatikan pembuka tulisan ini baik-baik

Pasar saham itu laksana pemilu dalam jangka pendek, tapi mirip timbangan dalam jangka panjang. Maksud saya, seberapa kuat persepsi anda melihat pasar sebagai timbangan?

Timbangan itu objektif menunjukkan keseimbangannya.

Hey, saya percaya apabila anda bilang memiliki persepsi yang kuat akan hal ini.

Tapi saya tak yakin anda memperlakukan pasar saham sebagai timbangan dan menjadi landasan anda dalam meletakkan uang. Alih-alih, anda ikut saja pemilu di pasar saham.

Perhatikan! Warren Buffett sukses luar biasa di bursa saham. Dia melihat pasar sebagai timbangan, lalu menggunakannya untuk landasar berinvestasi.

Apakah saat ini anda sudah sukses seperti dia dengan pemilu itu? Saya tak yakin demikian faktanya.

"Saya sudah pakai timbangan-timbangan itu. Tapi kenapa saya tak bisa berhasil di pasar saham?" Barangkali anda akan protes dan berkata demikian.

Tenanglah. Apabila kondisinya demikian, ada baiknya anda mengkalibrasi ulang timbangan anda. Saya curiga timbangan yang tiap hari anda pakai itu sedang rusak.(*)

Salam
www.yekti-sulistiyo.com

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…