Langsung ke konten utama

Membuat Ombak Samudera yang Indah bagi Broker

investasi saham


Belum lama ini saya membaca artikel yang cukup menarik tentang kemunculan berita yang isinya kabar keuntungan sebuah perusahaan. Yang menjadikan artikel tersebut enak dibaca dan perlu adalah urutan ritme kemunculan berita dan siapa saja yang membaca dan menggunakan berita tersebut.

Ringkasnya begini, sebut saja perusahaan yang kodenya di bursa saham WWWW itu berkinerja cemerlang. Itu kurang lebih isi berita utamanya. Menurut isi artikel tersebut, supaya ada semacam gelombang transaksi, maka dibuat sedemikian rupa agar yang mengetahui berita tersebut urutannya mulai dari bandar kelas kakap, kelas menengah, dan kelas ritel. Karena yang mengetahui berita baik saham WWWW pertama kali adalah bandar kelas kakap, mereka membeli. Lalu menjual setelah berita itu diketahui oleh kelompok ritel yang baru mengetahui berita baik perusahaan WWWW. Dengan demikian, arus volume transaksi di saham WWWW meningkat cukup signifikan. Tentu ketika transaksi meningkat, komisi yang diperoleh broker juga banyak.

Begitulah, sebuah berita yang diketahui oleh satu kelompok, saat ada kelompok lain yang mengetahui isi beritanya, tapi waktunya saja yang lebih lambat, maka keputusan yang muncul bisa sangat berbeda. Inilah yang mungkin sering diibaratkan dengan 'membuat ombak samudera'. Disini sepertinya menyiratkan bahwa bandar kelas kakap selalu menang di pasar saham. Mungkin saja kesimpulan tentang bandar kelas kakap itu benar, mungkin juga salah.

Di pasar saham Indonesia, insider trading itu dilarang keras! Ini fakta standard yang tentunya diketahui oleh para pelaku pasar saham. Apabila perusahaan publik belum merilis laporan keuangannya di BEI, maka kabar yang beredar tentang kondisi laba rugi belum boleh keluar. Namun apabila ada kasak kusuk terkait laba rugi perusahaan publik, hampir dipastikan bahwa kabar itu dianggap isu yang belum jelas kevalidannya. Jadi akan sulit dibawa sebagai kasus insider trading, misalnya.

Saya hanya berangan-angan. Bayangkan anda kerja di perusahaan publik, anda dekat dengan bagian yang membuat laporan keuangan, atau malah anda yang punya pekerjaan membuat laporan. Ketika ada audit, anda punya peluang yang sangat bebas untuk menyapa auditor lapiran, bahkan bisa makan siang bersamanya. Setelah pembicaraan yang panjang, diantara pembicaraan makan siang itu terselip pertanyaan tentang kondisi perusahaan. Lugasnya, kondisi laba rugi.

Apabila anda seorang pelaku pasar saham, saya kira wajar apabila anda menjadikan kabar makan siang itu menjadi acuan anda mengambil keputusan di pasar saham.

Saya sendiri, lebih tertarik untuk melihat rilis laporan keuangan perusahaan itu di BEI. Selain mudah didownload, itu sah secara hukum. Tapi apabila ingin membeli saham sebelum rilis laporan keuangan, saya kira anda termasuk bijak apabila mengkaitkan perusahaan yang akan anda beli sahamnya itu dengan situasi perekonomian saat ini.

Misalnya, saat pemerintah menggenjot infrastruktur, perusahaan yang memiliki bidang infrastruktur kemungkinan akan memiliki kinerja cemerlang. Bisa juga dengan melihat trek perusahaan di tahun-tahun sebelumnya dalam mencetak laba. Perusahaan yang konsisten mencetak laba, tentu dikelola dengan baik oleh para eksekutifnya.

Saya kira, dengan tanpa menghilangkan manfaat berita, anda dapat tetap enjoy bertransaksi di pasar saham. Anda tetap punya konfidensi tinggi meski ada pemberitaan yang negatif, sebab berita tersebut menurut anda masih setaraf isu yang belum valid. Disisi yang lain, anda punya segudang pengetahuan terkait detail perusahaan yang akan anda beli sahamnya. So, seberapa gencar pemberitaan, apabila anda punya pengetahuan, tentu anda akan mampu membedakan mana voice dan mana noise.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…