Langsung ke konten utama

Pengertian PE Ratio

Pengertian PER price earning ratio, pe ratio, harga wajar, per 15

Pengertian PE Ratio


Pengertian Rumus PER atau Price to Earning Ratio menurut para ahli adalah perhitungan harga saham (price) dibandingkan besar pendapatan perusahaan (earning).

Penghitungan ini menggunakan satuan ‘kali’ (Misalnya : nilai PE sebuah saham berkode XXXX adalah 12 kali).

Semakin kecil nilainya, biasanya saham XXXX tersebut lebih disukai investor.
Teorinya begitu. Faktanya seperti apa?
RUMUS PER = PRICE / EPS
PER = Price to Earning Ratio
PRICE = HARGA SAHAM SAAT INI
EPS = EARNING PER SHARE (PENGHASILAN PER LEMBAR SAHAM)* 
Pada postingan sebelumnya, sudah disampaikan tentang EPS, silakan kunjungi Nilai PE yang Mana yang Benar?

Kok Ada Banyak PE? untuk penjelasan lebih lanjut.

Teori menyebutkan bahwa semakin kecil nilai PE semakin ‘murah’ harga saham.

Darimana teori ini berasal? Mari simak penjelasannya.

Misalnya ada saham berkode XXXX memiliki EPS sebesar Rp 100.

Tentu saja EPS ini merupakan catatan kinerja tahun sebelumnya.

Bukan estimasi tahun berikutnya. Nah, ternyata pada saat penghitungan, harga sahamnya tercatat di BEI sebesar Rp 1000.

Dengan rumus PER diatas menjadi :
PER = 1000 / 100
PER = 10
Jadi, nilai PER dari saham XXXX adalah 10 kali.

Konsep sederhananya seperti penghitungan diatas.

Namun demikian, anda juga dapat mencari PRICE berdasarkan nilai kapitalisasi pasar.

Lalu untuk EPS didasarkan pada total pendapatan perusahaan.

Silakan pakai yang mana saja, umumnya hasilnya sama. Hehee...

Kegunaan Price Earning Ratio (PER)

Apakah perlu menghitung PER?

Sebenarnya, apabila hanya mengandalkan satu indikator dalam membuat keputusan membeli atau menjual saham, sepertinya memang kurang bijak.

Namun apabila terlalu banyak indikator, malah membuat bingung, apalagi bila punya pekerjaan yang menyita waktu.

Hemat saya, pakailah minimal 2 indikator untuk menganalisa.

Nah, satunya indikator dengan hitungan PER ini, lainnya dengan indikator lain yang pas bagi gaya investasi anda.

Manfaat berikutnya, anda dapat mengkomparasikan riwayat 2 saham dalam rentang beberapa tahun kebelakang.

Dengan menggunakan PER, anda akan mampu menguak fakta-fakta statistik yang menarik.

Hanya dengan melihat hasil PER mana yang lebih murah, anda akan mendapatkan riwayat kedua saham yang dikomparasikan tersebut, misalnya 5 tahun terakhir, atau 10 tahun terakhir.

Akan jelas ketahuan, mana yang lebih mahal, mana yang lebih murah.

Dengan hasil itu, anda setidaknya dapat meneropong kira-kira di masa mendatang saham mana yang lebih baik.

PER ada banyak? Jangan Bingung!

Penting diketahui PE Ratio dihitung dengan cara yang beragam.

Jadi tidak dibuat dengan basis data yang sama.
  • Ada perusahaan yang menghitung PE Ratio menggunakan pendapatan dalam rentang 4 kuartal terakhir. Ini biasa disebut trailing PE Ratio
  • Ada juga perusahaan yang menggunakan pendapatan di rentang dua kuartal terakhir dan proyeksi pendapatan dalam rentang dua kuartal berikutnya. Ini biasa disebut current PE Ratio
  • Malah ada juga perusahaan yang menghitungnya berdasarkan proyeksi pendapatan di masa yang akan datang, tanpa melihat data-data masa lalu. Ini biasa disebut forward PE Ratio.
Ada investor yang suka dengan data-data masa lalu saja, masa depan saja atau data campuran.

Dengan jam terbang anda selama ini, saya kira anda dapat menangkap berbagai dinamika terkait tiga kondisi berbeda ini.

Sekadar sharing, umumnya estimasi pertumbuhan pendapatan di masa mendatang lebih sulit diprediksi oleh para analis.

Meskipun berbagai pendekatan dipakai, faktanya jarang sekali yang memiliki akurasi tinggi.

Selain itu, apabila menggunakan basis data pendapatan dari tahun sebelumnya, anda sebaiknya mengetahui sumber-sumber pendapatan perusahaan yang kodenya XXXX tersebut.

Jangan sampai anda terperangkap dengan manipulasi pendapatan yang terlihat gemuk, padahal aslinya tidak gemuk.

Meskipun PE Ratio ini banyak dibahas di kalangan akademis maupun praktisi, fakta di lapangan menyebutkan bahwa nilai PER di tiap-tiap sektor memiliki perbedaan dan karakteristik tersendiri.

Oleh sebab itu, apabila akan menggunakan indikator ini, sebaiknya menganalisa saham yang memiliki sektor yang sama saja.

Tidak menggunakan PER untuk saham yang memiliki sektor yang berbeda.

“Sebuah emiten memiliki PE (price to earning) 43 kali. Bagaimana pendapat anda, apakah anda akan berinvestasi di saham tersebut?”

Misalnya pertanyaan ini diajukan kepada anda, apa jawaban anda?

Bila saya yang ditanya, maka saya akan balik bertanya, “PE tersebut anda peroleh darimana?”

Sepertinya jamak diketahui bahwa antara PE saat ini dan PE estimasi boleh jadi sangat berbeda perhitungan dan hasilnya.

Umumnya para investor ‘masa kini’, menggunakan data-data matang yang diperoleh dari internet, yang jelas tidak dihitungnya sendiri.

Ratio PE tersebut tampil instant setelah investor itu mengetikkan ‘PER emiten XXXX’ di mesin pencarinya Larry Page dan Sergei Brin.

Supaya lebih spesifik, acap kali ditambahkan dengan tahun.

Jadilah ‘PER emiten XXXX tahun 2017’.

Kok tahu, pak? Ya iya lah.

Lha wong saya juga (dulu) melakukannya demikian. Hehehe...

Kenapa perlu tahu nilai PER?

Umumnya, investor di pasar saham menghendaki investasinya tumbuh dengan mendasarkan pembeliannya pada harga saham apakah masih murah.

Nah, ukuran murah atau mahal itu salah satunya dihitung dengan ratio PE ini.

Bila hasil perhitungannya muncul, maka investor biasanya mempertimbangkan untuk membeli atau tidak saham itu.

Dengan alasan itulah, perhitungan PE ini menarik bagi banyak orang, terutama yang konsen dengan analisa fundamental.

Oke, mari kita lihat analogi berikut. Saham XXXX disebutkan memiliki current PE 43.

Sedangkan estimasi PE dari saham XXXX tersebut hanya 29.

Mulai mikir, kan?

Secara sederhana, anda mungkin langsung menangkap pesan bahwa current PE adalah nilai PE saat ini, sedangkan estimasi PE adalah asumsi nilai PE di masa yang akan datang.

Benarkah demikian? Mari kita simak.

Pakar analisa fundamental selalu menyebutkan bahwa current PE itu merupakan angka PE yang dihitung menggunakan EPS (Earning Per Share) terakhir atau EPS tahun sebelumnya.

Lazimnya, current PE ini menggunakan data sebenarnya, tanpa dikaitkan dengan perkiraan di masa yang akan datang, ataupun pengaruh-pengaruh bisnis perusahaan lainnya.

Jadi angka harganya berasal dari angka harga saat ini, sedangkan angka EPS diperoleh dari data tahun sebelumnya.

Sangat sederhana, memang.

Bagaimana dengan estimasi PE? Estimasi PE dihitung dengan perhitungan yang lebih kompleks.
Meskipun sama-sama menggunakan harga dan EPS dalam menghitungnya, tetapi sumber data estimasi PE sangat berbeda dengan current PE. 
Estimasi PE memiliki sumber data EPS yang cukup beragam. Namanya saja estimasi, kan. 
Lalu darimana EPS itu? 
Ada yang berasal dari konsensus, ada pula yang bersumber dari hasil analisa para broker.

Bila EPS yang dipakai dari konsensus, umumnya seragam angkanya.

Tapi bila berasal dari masing-masing sekuritas atau broker, ya jelas saja tiap-tiap sekuritas kemungkinan besar tidak sama.

Hal ini wajar, mengingat riset yang dilakukan oleh masing-masing sekuritas menggunakan indikator-indikator ekonomi yang cukup bervariasi.

Sebaiknya bagimana sikap investor?

Logikanya begini, current PE itu umumnya menunjukkan kondisi perusahaan yang dikaitkan dengan harga saham saat ini dan EPS di masa tahun lalu.

Sementara estimate PE mengajak anda untuk melihat masa depan, meskipun hanya sebatas estimasi.

Lalu apakah harga saat ini (current PE) hanya menjadi masa lalu sebuah perusahaan?

Meskipun jawabannya condong “tidak”, tapi apabila dipikirkan masak-masak, estimasi PE lebih menarik diperhatikan dibanding current PE.

Hanya saja, akan lebih lengkap wawasan anda apabila mampu mengorek keterangan ‘darimana sebenarnya sumber estimasi EPS” yang dipakai sebagai acuan.

Jangan sampai anda menerima angka yang dihitung secara over confidence, atau bahasa kasarnya ngawur!

PE Ratio juga memiliki potensi pergerakan yang dinamis, mengingat harga saham yang selalu berubah setiap saat.

Semoga ulasan tentang Pengertian PE Ratio ini dapat membuat wawasan anda bertambah lebih baik lagi. Silakan share, gratis.

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…