Langsung ke konten utama

Mengelola Uang di Pasar Saham

uang pasar saham

Manajer Keuangan yang mengelola uang besar di pasar saham cenderung berhati-hati menjelang akhir tahun, tapi cenderung tidak demikian di awal tahun. Setidaknya secuil informasi berharga ini bisa anda pesoleh di buku The Inteligent Investor karya Benjamin Graham. Sepertinya apabila diamati sedikit informasi tersebut memang logis. Bayangkan anda menjadi seorang Manajer Investasi yang mengelola uang dalam jumlah besar. 

Selama 11 bulan, dari Januari hingga November, anda memiliki kinerja yang lumayan bagus dan membuat para investor yang mengamatkan uangnya pada anda untuk dikelola terlihat senang.

Tentu anda tak ingin reputasi anda mengelola uang mereka menjadi tercemar di bulan Desember karena kinerjanya buruk, bukan?

OK, deh. Misalnya lagi kinerja anda selama 11 bulan itu tidak cukup bagus. Tentu saja anda tak akan bertindak ngawur di bulan Desember untuk membeli dan menjual saham secara massif, berharap menutupi keterpurukan selama 11 bulan sebelumnya.

Jadi, meminimalisir kinerja buruk saja dulu. Alih-alih anda tentu akan bertindak yang lebih aman terhadap dana kelola tersebut, sambil menunggu bulan Desember segera berlalu.

Akan semakin mudah bagi para Manajer Investasi mengakui kinerjanya yang buruk selama 1 tahun, kemudian menyusun langkah-langkah strategis yang terbentang 1 tahun kemudian. Tentu saja dengan catatan para pemilik dana kelola adalah mereka-mereka yang punya kesabaran untuk berinvestasi jangka sangat panjang.

===========

Hedge Fund, seperti anda sudah pahami selama ini, tentu dikelola oleh lembaga-lembaga yang memiliki krediblitas terpercaya. Kemampuan para Manager Investasi disitu pastinya memiliki level internasional.

Oleh sebab itu, biasanya cara kerja mereka dalam mengelola uang dalam jumlah besar tentu memiliki batasan-batasan yang sangat jelas. Mereka tak mau serampangan membeli saham-saham yang tidak jelas.

Dampak dari cara kerja yang disebutkan diatas, umumnya membuat saham-saham yang memiliki kategori tidak jelas tadi akan menukik ke bawah karena sepi minat beli. Ini kembali ke prinsip awal, apabila dipasar tidak banyak yang membeli cabe, padahal penjual cabe jumlahnya tidak berubah, maka harganya akan turun.

Beda halnya apabila orang-orang berbondong-bondong mebeli cabe, maka harga cabe akan melambung! Nah, inilah kondisi yang konon katanya sering terjadi menjelang akhir tahun.

Manajer Keuangan cenderung tidak ingin di akhir tahun (sebenarnya siapa pun pada waktu kapan pun), memiliki catatan merah pada portofolio yang dikelolanya. Ini berkaitan erat denga reputasi.

JANUARY EFFECT


Pelemahan harga-harga saham berkapitalisasi kecil atau saham-saham yang tidak begitu popular di bulan Desember, kemudian melesat naik harganya pada bulan Januari, kerap kali mengundang para trader saham jangka pendek untuk ambil bagian. Parahnya, situasi ini diketahu hampir semua pelaku pasar saham. 

Lalu, pernahkan anda tanyadiri anda sendiri, apabila semua tahu harga saham akan naik masih adakah yang mau jual cabe esok? Hal inilah yang diungkap oleh William Schwert, Universitas Rochester. Menurutnya January Effect itu bukan hilang, tapi melemah.

Dengan istilah January Effect, anda bisa memiliki return 8.5% lebih baik dari pasar antara tahun 1962 — 1976; bisa 4.4% lebih baik dari pasar antara 1980 — 1989; dan 5.8% lebih baik dari pasar di rentang tahun 1990 — 2001.

Banyaknya orang yang ingin memanfaatkan January Effect, membuat orang berbondong-bondong membeli saham di bulan Desember, lalu menyimpannya untuk dijual bulan Januari.

Tapi kemudian apa yang terjadi sebenarnya adalah tidak sesederhana demikian karena January Effect bukan lagi sesuatu yang pasti terulang seperti pada masa yang sudah-sudah.

==========

Silakan amati pergerakan harga saham di Indonesia yang memiliki kapitalisasi kecil. Katakanlah dibawah Rp 2 Triliyun. Silakan filter chartnya antara bulan Desember hingga Januari.

Apabila anda mengatakan bahwa PASTI aka nada January Effect di tahun 2018 ini atau tahun 2019 nanti, kemungkinan besar anda belum melihat semua saham-saham itu. Atau boleh jadi anda juga butuh pembanding di waktu-waktu yang lain selain bulan Desember — Januari?

Apabila mengatakan Manajer Investasi musti berhati-hati dalam mengelola keuangan di pasar saham, anda pasti setuju. Sebagaimana pula anda mengelola keuangan anda sendiri di pasar saham.

Mau ada January Effect atau apapun itu, apabila anda tidak berhati-hati mengelola uang anda, orang tidak akan kaget apabila suatu ketika anda terjerembab di pasar saham. Mari Logis Berinvestasi!

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER)

Pengertian Debt to Equity Ratio (DER) - Debt to Equity Ratio (DER) adalah perhitungan rasio keuangan yang menunjukan perbandingan antara equity dan debt.

Satuannya sering disebutkan dalam persen (%) atau ‘kali’. Debt to Equity Ratio ini sering disebut leverage ratio karena dapat diasumsikan untuk mengukur keberhasilan investasi suatu perusahaan.

Secara teori, DER yang lebih dari 100% termasuk kurang baik. Semakin besar DER beban perusahaan semakin berat, sehingga dapat menghambat laju perusahaan.

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan utama dan menjadi indicator kesehatan keuangan perusahaan.

Kenapa DER Penting?DER merupakan ukuran perusahaan melunasi kewajiban atau liability. Apabila kewajibannya sangat besar, maka keuntungan yang masuk, boleh jadi akan tergerus dengan kewajiban yang wajib dibayarkan.  DER ini merupakan idikator utama ketika anda ingin mengetahui kesehatan keuangan perusahaan.Meningkatnya nilai DER dalam kurun waktu tertentu menandakan bahwa perusahaan …

Kisah Sukses Trading Saham Indonesia yang Menginspirasi

Sukses trading saham di Indonesia ini bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Profesi apapun, tak menjadi batasan bagi yang ingin sukses di saham. Banyak kisah yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia terkait sukses para trader saham ini.

Kisah-kisah tersebut barangkali saja dapat menjadi inspirasi bagi anda yang butuh motivasi terkait pemahaman tentang dunia pasar modal, terutama dunia tentang saham.

Kisah-kisah Sukses Investor yang Trading Saham Indonesia Kisah-kisah yang akan diulas disini, selain membicarakan keberhasilan para pelaku trading saham maupun pelaku investasi di pasar saham, juga membicarakan tentang upaya-upaya lebih baik dari pada kebanyakan orang di pasar modal Indonesia.

Semoga kisah-kisah yang disampaikan dapat mendorong minat anda yang membaca Tulisan ini ada untuk mencontoh cara-cara cerdas yang mereka lakukan.

Sukur-sukur di kemudia hari anda dapat melampaui pencapaian mereka saat ini. Saya percaya bahwa siapapun anda, tentu memiliki peluang untuk …

Rumus ROA (Return On Assets) dan Pengertiannya

Mengukur Efek ROA bagi Investasi Saham Rumus ROA (Return On Assets) ini menggambarkan keberhasilan manajemen sebuah perusahaan dalam menghasilkan return laba secara keseluruhan.

Caranya dengan membandingkan return laba sebelum pajak dengan total aset. Rumus ROA ini juga mengambarkan perputaran aset yang diukur dari volume penjualan.

Semakin besar hasil perhitungan menggunakan rumus ini pada suatu perusahaan, juga semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut.

Artinya semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut dari penggunaan aset, baik itu asset yang berupa ekuitas maupun asset yang berupa liabilitas.


Sebaliknya, semakin kecil rasio perhitungan ini, dapat mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen perusahaan.

Maksudnya dalam hal mengelola assets perusahaan untuk meningkatkan earning, sekaligus menekan cost pengeluaran.

Hasil perhitungan rumus ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen perusahaan dalam meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dar…