pemerataan-order-gojek

"Sampai kapan nih sistem pemerataan order selesai bang..sampai ngantuk nunggu suara tettt" kata salah satu anggota Grup Telegram. Pertanyaan ini menjadi retoris, sebab sudah menjadi pertanyaan yang menyebar dimana-mana. Tapi tak satu pun ada yang mampu menjawab secara pasti.

Seperti apa sistem pemerataan orderan ini? Mari simak ulasan berikut ini.

Pemerataan Order Gojek

Isu pemerataan order dari PT Gojek Indonesia sepertinya terjadi di banyak kota. Misalnya di Jember. Dari keterangan para driver yang menjadi mitra, mengaku kalau sejak beberapa hari terakhir, tidak ada lagi driver yang gacor orderannya sambungan terus. Driver yang biasanya sulit mendapat orderan pun bisa menerima orderan yang relatif sama dengan yang driver yang tadinya gacor.

"Kalau disini buat biasanya yang dapat tupo 20 paling yang biasa di food. Tapi dengan sistem pemerataan order begini tidak ada lagi istilah food, ride, atau yg lain, semua kita kebagian orderan," kata salah satu driver asal Jember.

Mitra Gojek asal Malang

"Ane sih ga tau di Jember kayak apa, (tadinya) kalau kita disini, gacor hal biasa, setiap hari tupo ga aneh. Makanya pas ada pemerataan order gini, kerasa banget, sampe demo, hampir ga ada yg bisa tupo, Ane di Pekanbaru. Liat aja demonya di youtube ada kok," ujar salah satu driver asal Pekanbaru.

Benarkah ada pemerataan orderan gojek? 

Dari hasil kopdar paguyuban driver di Malang, ada semacam bantahan kalau ada sistem pemerataan orderan. Mengutip keterangan dari paguyuban SEGURU dan LAWANG99 yang baru-baru ini mengadakan kopdar, setidaknya ada empat poin penting yang dibahas. 

Berikut Poin penting kopdar Gojek dan Mitra Driver:

  1. Pertama, tidak ada pemerataan order di Malang. Artinya masih sama seperti semua, yaitu sistem performa. (Sepertinya masih perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan, sebab banyak driver yang mulai kesulitan tutup poin).
  2. Selain itu juga dibahas tentang mitra wajib mempunyai BPJSTK. 
  3. Poin berikutnya, mitra yang tidak aktif selama 2 minggu atau 14 hari akan di non-aktifkan sementara. Ini termasuk upaya preventif dalam mencegah penyalagunaan akun oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi marak isu jual beli akun mitra driver Gojek.
  4. Poin penting yang dibahas selanjutnya adalah nomor samaran. Nomor samaran untuk goride memang diberlakukan untuk melindungi customer dan driver. Jadi hanya nomor terdaftar saja yang dapat dipakai untuk komunikasi. Otomatis nomor yang tidak terdaftar di aplikasi gojek tidak bisa menghubungi customer dan driver. Namun demikian, penerapan nomor samaran ini masih dilakukan secara bertahap dan belum menyeluruh.

Pro Kontra Sistem Pemerataan Orderan

Kembali pada pembahasan pemerataan orderan, tentu saja ada pro dan kontra. Hampir dapat dipastikan, mereka yang tadinya sulit mendapat orderan, akan sangat setuju penerapan sistem pemerataan ini. 

Alasannya jelas, biasanya sehari hanya menerima 1 atau 2 orderan saja, tapi dengan pemerataan ini, mereka dapat menerima orderan lebih baik dari biasanya.

Sebaliknya, para driver yang termasuk kategori gacor, mayoritas tak sepakat dengan penerapan sistem ini. 

Alasannya, banyak driver yang mengatakan bahwa untuk menjadi prioritas atau gacor, dibutuhkan perjuangan yang panjang. Tentu ini mengacu pada ketentuan-ketentuan normal. Selain itu, mereka yang masuk kategori ini umumnya rajin atau bahkan sangat rajin dalam menjemput orderan.

Algoritma Pembagian Order Gojek

Dari keterangan sejumlah driver Gojek, sebenernya selama ini Gojek sudah menerapkan sistem yang bagus terkait pembagian order ke tiap drivernya.

Istilah sistem pembagian order Gojek ini dikenal dengan sistem Jaeger. Driver yang lebih rajin akan lebih diprioritaskan mendapatkan order dibanding driver yang kurang rajin. Tentu saja pada radius yang masuk akal untuk menerima order.

Tidak mudah untuk menjadi driver menjadi prioritas. Butuh perjuangan yang panjang.
Misalnya keluar pagi, bekerja lebih ulet, tidak pilih-pilih orderan, dan seterusnya. Jika konsisten selama 1-2 minggu, maka masuk minggu ketiga akan berpeluang menjadi driver prioritas.

Sayangnya, banyak sekali driver prioritas yang bekerja hingga over poin. Bahkan misalnya tutup poin hanya 22, mereka lanjut saja hingga poin 45. Tentu hal ini membuat driver non prioritas menjadi tersisih.

Imbasnya, driver yang sepi alias anyep pada protes. Orderan dibabat habis oleh driver prioritas.
Bentuk protes yang ramai di grup WA atau Telegram yaitu adanya gerakan bintang 1 ke aplikasi gojek driver di playstore. Bahkan aplikasi Gojek Driver sempat jatuh ke 2.5 dari poin maksimal 5.

Akhirnya Gojek mulai merespon hal tersebut dengan pemerataan order yang akhir-akhir ini marak dibahas.

Driver pada merasa kesulitan menerima orderan, dapat 1 order tiap minimal 1 jam. Bahkan ada yang 3 jam. Parah!

Tentu saja ini membuat driver prioritas tidak nyaman. Mereka gantian bereaksi dengan memberikan rating 1 di Play Store.

Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gojek untuk lebih bijak dalam menerapkan sistem algoritma pembagian orderan.

Kritik #GojekKenapa Jadi Trending di Tweeter


Hashtag GojekKenapa sempat trending baru-baru ini. Ada yang menyebut itu semacam protes santuy atas diberlakukannya sistem pemerataan order Gojek.

Sebuah protes santuy ala driver on twitter tentang sistem yang
@gojekindonesia
kembangkan....
Kami hanya bertanya #GojekKenapa #GojekKenapa #GojekKenapa dengan tujuan membuka mata tentang sistem yang SALAH...
#SalamSatuAspal

Penutup

Sampai kapan kejelasan isu pemerataan penerimaan orderan ini akan dapat diterapkan, sebelum ada keterangan resmi dari pihak aplikator, tentu tak dapat disimpulkan secara sendiri-sendiri. Meskipun berkembang berbagai dugaan tentang sistem pemerataan orderan Gojek, layak ditunggu apakah yang menjadi pertimbangan aplikator menerapkan 'keadilan' baru bagi para mitranya.