Mbah Hamid Pasuruan atau KH. Abdul Hamid Pasuruan


Mbah Hamid Pasuruan itu wali di Pasuruan Jawa Timur yang sangat terkenal. Banyak sekali kisah-kisah kewalian yang tersebar ke pelosok negeri. Seperti apa perjalanan hidup waliyullah di Pasuruan ini?

Beliau lahir di Desa Sumber Gerang Lasem, Rembang, Jawa Tengah pada 1333 Hijriyah, atau sekitar tahun 1914. Nama lengkap beliau adalah Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Basyaiban Ba'alawi yang kemudian terkenal dengan sebutan Mbah Hamid Pasuruan.

Mbah Hamid anak ketiga dari tujuh belas bersaudara. Lima sudara diataranya adalah saudara seibu dan dua belas saudara kandung.

Beliau wafat pada 25 Desember 1985 dan disemayamkan di Pasuruan, persis di sebelah barat Masjid Al Anwar Alun-alun Kota Pasuruan. Makam beliau tak pernah sepi dari peziarah dari seluruh penjuru negeri.

Masa Kecil KH Abdul Hamid Pasuruan

Sebenarnya nama kecil Mbah Hamid adalah Abdul Mu'thi. Beliau menggunakan nama tersebut hingga remaja.

Namanya mengalami perubahan setelah beliau menunaikan ibadah haji pertama dengan sebutan Abdul Hamid lantas berubah kembali menjadi Hamid, sebelum akhirnya dikenal Mbah Hamid. 

Meskipun semasa kecil beliau dikenal bandel dan nakal, tapi siapa yang menyangka bahwa beliau tumbuh dewasa dan mampu menembus derajat waliyullah yang masyhur.

Meskipun nakal ketika kecil, Mbah Hamid sangat luwes dalam menyampaikan ajaran kebenaran Islam kepada masyarakat luas. Tentu saja ini tak lepas dari keluasan ilmu yang dimikinya.

Mbah Hamid Pasuruan
KH Abdul Hamid waliyullah Pasuruan

Keluasan ilmu yang dimiliki beliau tentu tak lepas dari lingkungan belajar yang kondusif. Lingkungan pesantren tempat tumbuh kembang beliau turut mempengaruhi aktifitas belajarnya.

Ayahanda beliau, Kiyai Abdullah Ibn Umar Basyaiban adalah ulama yang cukup disegani di Lasem. Kiyai mendidik anaknya, Abdul Mu'thi, dengan cukup baik. Dasar-dasar agama pun berhasil ditransfer kepada anaknya.

Tentu saja ini tak lepas dari peran Ibunda beliau, Nyai Roihanah binti Shiddiq yang tak lain adalah putri dari Kiyai Shiddiq (wafat di Jember) yang juga ulama terkenal di Lasem..

Seolah sejak kecil telah dipersiapkan untuk menjadi kiyai besar di kemudian hari, sejak kecil sudah dikenalkan dengan Alquran dengan baik oleh orang tuanya.

Pada usia 9 tahun, Kiyai Umar mengenalkan dasar ilmu-ilmu fiqh yang menjadi dasar sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya.

Pengembaraan KH Abdul Hamid dalam Menuntut Ilmu 

Usia 12 tahun, Abdul Mu'thi berangkat ke Talangsari Jember untuk menimba ilmu di pesantren KH Shiddiq, Kakeknya.

Tahun 1967, Abdul Mu'thi berangkat haji bersama KH Shiddiq. Saat itu umurnya 15 tahun. Seperti lazim diketahui, sepulang haji orang akan mendapat nama baru. Demikian juga Abdul Mu'thi yang memiliki nama baru yaitu Abdul Hamid.

Sepulang haji, Abdul Hamid meneruskan pencarian ilmunya Pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah. Beliau belajar disini sekitar 3 tahun.

Pesantren ini pengasuhnya adalah Kiyai Kholil ibn Harun yang tak lain adalah mertua KH Bisri Mustofa Rembang, ayah KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Seolah dahaga ilmunya belum hilang, beliau terus mengembara lagi untuk terus menengguh tetesan ilmu pelepas dahaga dari para ahli ilmu. Persinggahan berikutnya yaitu Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur yang diasuh Kiyai Dimyati.

Kedekatan Abdul Hamid dengan putra Kiyai Dimyati yang bernama Gus Hamid sepertinya menjadi pertimbangan beliau memilih untuk belajar di Termas. 

Selain kedekatan beliau dengan Gus Hamid, kakak Abdul Hamid yang bernama Gus Zaini telah lebih dahulu nyantri dan berada di Termas.

Selain kedua hal tersebut, keberadaan Pesantren Termas yang begitu menjulang tinggi sebagai mercusuar perkembangan ilmu tentu saja sangat memikat para pencari ilmu.

Pesantren Termas terbukti melahirkan tokoh-tokoh besar yang mampu menjadi obor penerang setelah terjun di masyarakat dan menerapkan ilmunya. 

Sebut saja Kiyai Harun Banyuwangi, Kiyai Masduqi Lasem, Kiyai Ridhwan Magelang, dan sebagainya, semua adalah alumni Pesantren ini.

Bila ingin lebih banyak lagi mengetahui kiprah alumni Pesantren Termas, silakan baca buku berjudul Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan, karya Hamid Ahmad. 

Di Termas, Abdul Hamid belajar cukup lama. Selama 12 tahun di Termas, beliau bukan sekadar belajar saja, tapi sudah mampu mengajar santri-santri di pesantren tersebut.

Kapasitas keilmuan yang mumpuni dari hasil perjuangannya selama ini dalam menuntut ilmu, mulai terlihat manfaatnya. Kepiawaian beliau mengajar tentu saja mempertajam tingkat keilmuan yang beliau miliki.

Pernikahan KH Abdul Hamid dengan Ning Nafisah

Pada tanggal 12 September 1940 atau 9 Sya'ban 1359 Hijriyah, KH Abdul Hamid menikah dengan putri KH Achmad Qusyairi yang bernama Nafisah. Kiyai Qusyairi adalah pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan.

Sebenarnya Kiyai Qusyairi masih kerabat dengan beliau dari jalur ibunya, Nyai Roihanah binti Shiddiq. Kiyai Qusyairi terhitung masih paman beliau.

Kabarnya Kiyai Qusyairi menerima rujukan dari Kiyai Shiddiq terkait perjodohan ini. Kiyai Shiddiq bilang bahwa pemuda ini punya banyak sekali keistimewaan. 

Misalnya, ketika pergi haji, bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Pemuda yang dimaksud ini tak lain adalah cucunya sendiri, KH Abdul Hamid.

Singkat kisah, terjadilah pernikahan antara KH Abdul Hamid dengan Ning Nafisah. Sayangnya, Sang Kakek atau Kiyai Shiddiq tak sempat menyaksikan pernikahan tersebut karena dipanggil oleh Allah SWT.

Ada sekelumit cerita menarik terkait pernikahan ini. Acara akad nikah, seperti tertera pada undangan, berlangsung di Masjid Agung Al Anwar, setelah selesai sholat Dzuhur atau jam 1 siang. Tapi rombongan belum juga tiba.

Waktu terus berlalu. Jam dinding telah menunjukkan jam 2 siang. Akhirnya walimah dimajukan agar kekosongan acara tidak berlarut-larut, sambil menunggu kedatangan pengantin putra. Walimah ini di kediaman Kiyai Qusyairi.

Walimah selesai, ternyata rombongan yang ditunggu belum juga datang. Satu per satu tamu undangan mulai meninggalkan tempat. 

Sore hari, rombongan baru tiba. Tapi acara walimah telah usai dan tamu undangan sudah sepi. Kiyai Ma'shum yang menjadi kepala rombongan pengantin putra bilang bahwa mereka mampir ziarah dulu di makam salah satu wali.

Maka pernikahan ini pun berlangsung dengan hanya disaksikan kerabat dekat dan rombongan pengantin saja, karena tamu undangan sudah pulang. 

Maka sejak saat itulah KH Abdul Hamid mulai menetap di Pasuruan bersama keluarga Kiyai Qusyairi. Beliau juga mulai membantu kesibukan mertuanya mengajar di pesantren.

Post a Comment