KH Hasyim Asy'ari Resolusi Jihad hingga Islam Nusantara


KH Hasyim Asy'ari atau yang dikenal waliyullah dengan sebutan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari lekat dengan Nahdlatul Ulama. Dalam ilmu Tasawuf ternyata beliau juga memiliki kontribusi yang sangat besar.

kh-hasyim-asyari
Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari

Kiyai Hasyim Asy'ari pun punya sentuhan lembut bagi peradaban masyarakat di Indonesia, bukan hanya kaum Nahdliyin, tapi juga diluar Nahdliyin, bahkan juga bagi umat agama selain Islam.

Resolusi Jihad fi Sabilillah

Gema dari Resolusi Jihad fi Sabilillah yang menggema seantero negeri, menjadi penanda betapa Hadratus Syekh sangat anti dengan penindasan. Dalam hal ini, Belanda yang bertindak diluar ambang batas terhadap bangsa Indonesia.

Resolusi tersebut sangat jelas, usir penjajah Belanda!

Sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama kala itu, Kiyai Hasyim Asy'ari mantap untuk memobilisasi warga Nadhliyin agar melawan penindasan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda.

"Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu 'ain..." itulah kutipan yang sangat memantik bara semangat seluruh warga Nahdliyin untuk terjun ke medan laga.

Dengan didampingi oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, Ketua Besar Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh mampu menggalang kekuatan yang luar biasa dengan seruan Resolusi Jihad tersebut.

Bung Tomo sebagai penyambung nadi perjuangan yang diserukan kedua tokoh tersebut, memimpin Arek-arek Suroboyo untuk melawan Belanda. Tekat sudah bulat, mempertahankan kemerdekaan sekaligus mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Keberhasilan di Surabaya sangat cepat menyebar ke seluruh Nusantara. Tentu saja ini menjadi penanda atas sejarah panjang perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan penuh.

Keberhasilan Resolusi Jihad ini semacam penegas bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan Bung Karno tahun 1945, tak bisa diganggu gugat oleh negara manapun, termasuk Belanda yang menjajah ratusan tahun.

KH Hasyim Asy'ari Pelopor Islam Nusantara

Selain peran beliau dalam Resolusi Jihad yang begitu gemilang, ternyata KH Hasyim As'ari memiliki nilai-nilai luhur dalam mengajarkan Islam yang luwes.

Dengan predikat Hadratus Syekh, tentu saja kapasitas keilmuan beliau memang sangat istimewa. Lalu dipadukan dengan kemampuan menyambungkan ajaran Islam kedalam tradisi maupun budaya masyarakat Indonesia kala itu, beliau sukses membumikan Islam di bumi pertiwi.

Hadratus Syekh melihat bahwa asek sosiologis, historis, dan kultur masyarakat di Indonesia, utamanya di Jawa tak bisa diganti begitu saja dengan ajaran Islam secara sporadis. Tapi beliau berhasil karena memiliki ketegasan yang halus untuk mengajarkan Islam; tanpa merusak nilai luhur yang sudah ada.

Tentu saja peran penyebar agama Islam sebelum beliau tak bisa diabaikan begitu saja. Keberhasilan Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari tak luput dari perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

Pola-pola pendekatan nilai-nilai Islami melalui akomodasi kebudayaan dan tradisi yang ada di Indonesia, menjadi senjata ampuh Wali Songo untuk mengembangkan Islam. Inilah yang diteruskan oleh Hadratus Syekh.

Bahkan apa yang dikembangkan oleh beliau ini nilainya melekat sampai sekarang. Muktamar NU ke-33 di Jombang, menjadi penegas hal tersebut. Ini ditandai dengan munculnya istilah Islam Nusantara. 

Sebuah pemikiran yang sangat luwes dalam membumikan nilai-nilai Islam di negeri yang memiliki kultur, tradisi dan budaya yang berbeda dengan apa yang ada di Timur Tengah, tempat mula Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran Islam.

Islam Nusantar kemudian berkembang sedemikian rupa hingga banyak mempelajari. Bukan hanya dari dalam negeri saja tapi juga pakar-pakar dari luar negeri. Tentu saja karya-karya Hadratus Syekh menjadi rujukan untuk menggali nilai-nilai Islam Nusantara.

Post a Comment