ruh-kiai-hasyim-muzadi-kiai-anwar-bululawang
KH Hasyim Muzadi

Tirakat Kiai Hasyim Muzadi

KH Achmad Hasyim Muzadi memiliki kedekatan yang spesial dengan Kiai Anwar Bululawang. Kedekatan tersebut salah satunya terlihat nyata misalnya ketika Kiyai Hasyim yang belum banyak dipanggil sebagai kiai, tetapi oleh Kiai Anwar telah diamanahi agar mendirikan pesantren di sekitaran jalan Cengger Ayam. Padahal wilayah ini masih berupa sawah.

Dari sumber-sumber terpercaya yang berhasil dihimpun, disebutkan bahwa suatu ketika Kiai Anwar meminta Kiai Hasyim agar datang ke kediaman beliau. Sebagai sosok yang sangat takzim kepada gurunya, tentu saja Kiai Hasyim memenuhi panggilan tersebut.

Mereka berdua pun bertemu. Pertemuan tersebut sangat penting bagi perjalanan kehidupan Kiai Hasyim di kemudian harinya.

Kiai Anwar meminta agar Kiai Hasyim menanggalkan semua jabatan-jabatan publik yang melekat pada dirinya. Tidak boleh lagi menikmati kehidupan yang penghasilannya bersumber dari gaji sebagai anggota DPR, gaji dari pekerjaan sebagai dosen, maupun penghasilan dari tunjangan sebagai penasihat pabrik gula Kebon Agung.

Perintah ini agar dilaksanakan selama 1000 hari. Jadi selama 1000 hari tersebut, Kiai Hasyim diminta hanya ngaji atau mengisi undangan-undangan ceramah agama saja. Tentu saja ini menjadi tanda tanya tersendiri bagi Kiai Hasyim, mengingat statusnya yang cukup mapan dengan berbagai jabatan yang melekat padanya.

Disisi lain, Kiai Hasyim sangat hormat dengan gurunya, yaitu Kiai Anwar. Beliau menuruti saja perintah tersebut, meskipun memendam sejuta tanya dihatinya.

Kiai hasyim Muzadi Menjadi Anggota Dewan

Ini seperti yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Waktu itu sekitar tahun 1978, Kiai Anwar mendorong Kiai Hasyim agar maju dalam pencalonan sebagai caleg DPR Provinsi Jawa Timur. Mendapat amanah tersebut, Kiai Hasyim sebenarnya juga merasa belum yakin. Tapi beliau jalani perintah tersebut.

Singkat cerita, Kiai Hasyim melenggang ke gedung dewan dan dilantik sebagai anggota DPR Provinsi Jawa Timur. Niatnya semata-mata hanya memenuhi perintah gurunya.

Sejak menjadi anggota DPR, tentu saja Kiai Hasyim berhak atas fasilitas yang sangat layak. Tunjangan-tunjangan negara serta gaji yang relatif besar, beliau dapatkan dari jabatannya tersebut.

Singkat kata, teringat akan kejadian awal sebelum menjadi anggota dewan inilah, maka Kiai Hasyim berpikir positif untuk menuruti lagi perintah gurunya. Beliau pun melepas jabatannya.

Mulailah Kiai Hasyim menjalani hidup tanpa kepastian penghasilan seperti saat menjadi anggota dewan. Bila sebelumnya hidup dengan kecukupan materi dan fasilitas dari negara, berbalik menjadi kehidupan yang cukup sulit. Tak ada lagi kepastian sumber keuangan yang tetap, bahkan makan esok hari pun tidak ada yang tahu.

Beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran selama 1000 hari. Dan ini menjadi pengalaman hidup yang luar biasa baginya. Bagaimana susahnya membagi fokus untuk hanya memikirkan umat, sementara ada tanggung jawab keluarga yang juga wajib dinafkahinya.

1000 hari pun berlalu. Beanr saja, Kiai Anwar pun datang ke kediaman Kiai Hasyim. Selang beberapa lama berbincang-bincang di kediaman Kiai Hasyim, kemudian Kiai Anwar mengajaknya keluar rumah. Mereka berjalan menyusuri jalan Cengger Ayam yang saat itu masih sangat sepi.

Sesampainya di suatu titik yang masih di jalan Cengger Ayam, Kiai Anwar menyampaikan sesuatu hal yang sangat besar bagi perjalanan kehidupan Kiai Hasyim.

"Pak Hasyim, sudah waktunya kamu mendirikan pondok, disini tempatnya." ujar Kiai Anwar sambil menunjuk sebidang tanah yang sekarang ini Pesantren Mahasiswa Alhikam Malang.

Kiai Hasyim pun terkejut dan tak tahu musti bagaimana menanggapi perkataan Kiai Anwar tersebut.

Singkat kisah, dengan penuh dedikasi dan semangat berjuang yang tinggi, terbangunlah Pesantren Mahasiswa Alhikam Malang.

Sebenarnya banyak kisah inspiratif terkait pembangunan pesantren tersebut. Mulai dari pembebasan tanah, pembangunan Masjid Alghozali, pengumpulan material dan seterusnya; semuanya demi terwujudnya sebuah pesantren seperti apa yang diperintahkan sang guru.

Bahkan pernah di hadapan para santrinya, Kiai Hasyim menuturkan bahwa dirinya sendiri yang mengangkut pasir dengan gledekan sederhana dari wilayah selatannya Pasar Tawangmangu yang menuju jembatan Pelor. Bisa dibayangkan seperti apa letih dan sulitnya perjuangan beliau.

Masih di waktu yang sama pada ngaji itu, Kiai Hasyim melanjutkan kisahnya kepada santri-santrinya, kalau masih ingat nama-nama para donatur dari mana dan menyumbang apa. Sungguh perjalanan kehidupan yang begitu penuh semangat, demi titah sang guru.

Abah Hasyim saat mengisi Tanbihul 'Am di Masjid Alghozali

Pelajaran Berharga, Ruh Kiai Melekat Erat pada Diri dan Perjalanan Kehidupan Kiai Hasyim Muzadi

Sekelumit kisah diatas, tentu saja tak bisa dianggap sebagai representasi utuh dari sosok Kiai Hasyim Muzadi. Kontrusi beliau yang begitu besar bagi peradaban Islam baik di kancah nasional hingga internasional, akan bisa ditemukan siapa saja yang menggali hikmah perjalanan kehidupan beliau.

Kita bisa saja mengambil capture kontribusinya di PBNU, barangkali. Atau sumbangsih beliau di ICIS, atau menguak perjalanan kehidupan beliau dalam bernegara. Pastinya ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita temukan bersama disana.

Meski demikian, capture dari kisah kehidupan Kiai Hasyim yang kami utarakan diatas, tentunya mengandung pelajaran tersendiri bagi siapa saja yang menggali pelajaran dari perjalanan hidupnya.

Penggalan episode kisah perjalanan kehidupan Kiai Hasyim Muzadi ini, jika betul-betul direnungkan, sesungguh terkandung hikmah luar biasa. Semua inilah yang barangkali menjadi prinsip hidup yang melekat dalam diri Kiai Hasyim Muzadi.

Selama menjalani tirakat 1000 hari, Kiai Hasyim Muzadi mengalami sendiri seperti apa rasanya berada dalam kesulitan ekonomi. Ketika tidak ada sumber keuangan yang pasti, tapi harus tetap fokus mengurusi umat, sekaligus mencukupi kebutuhan anak istrinya.

Disinilah Kiai Hasyim Muzadi menemukan empati ketika menyaksikan kehidupan umat yang sulit ekonominya. Bukan sekadar basa-basi di bibir saja, tapi beliau benar-benar pernah merasakannya.

Hal ini melahirlah kesadaran yang mendalam untuk selalu membantu orang-orang dimana saja. Memberi makan, menyediakan tempat tinggal, dan lain-lainnya; semuanya dilakukan oleh Kiai Hasyim dengan tulus ikhlas lillahi ta’ala.

Kesadaran Kiai Hasyim untuk membantu orang lain tersebut tersebut tulus murni tanpa mempertimbangkan hitungan duniawi atau untung-rugi. Beliau tak mengenal istilah hutang budi, apalagi menagih kepada orang yang menerima kebaikan-kebaikannya.

Barangkali tak salah bila disebutkan disini bahwa Kiai Hasyim Muzadi telah memperoleh salah satu hidayah yang luar biasa berupa ruh kiai.

Dengan ruh kiai ini, Kiai Hasyim Muzadi menjadikan sebagai prinsip maupun landasan dalam langkah  beliau untuk membangun Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, memimpin di PBNU dan menjadi Dewan Pertimbangan Presiden RI, bahkan hingga kancah internasional seperti ICIS.


Para santri atau siapa pun orangnya, tentu saja kini sudah selayaknya meneruskan warisan berharga berupa ruh kiai ini, meneruskan pusaka yang menjadi prinsip hidup KH Hasyim Muzadi tersebut. Kami kangen, Abah....(*)

Post a Comment